Sunday, November 29, 2015

Sindroma terowongan karpal (carpal tunnel syndrome)


Sindroma terowongan karpal (carpal tunnel syndrome)
Nury Nusdwinuringtyas

Suatu hari, terbaca pada whatsap grup teman SMA terbaca:
Met malem sobat2ku..met bobo ya…
Oh ya sobat2 dokterku…boleh tanya?
Ujung jari2 kiriku kadang kesemutan …
(dari sobat Grace Sumpena Sundah 24 November 2015 – Sanurian 6T)

mengingat teman tercinta seorang perempuan,  sama dengan saya  umurnya  dan posturenya, segera saya balas: Carpal tunnel Syndrome

Apa itu Sindroma Terowongan Karpal?
Sindroma terowongan karpal  (STK) merupakan kumpulan gejala yang terjadi karena  jepitan syaraf nervus medianus pada pergelangan tangan, menimbulkan nyeri  hingga rasa terbakar(burning pain),  baal (numbness),  kesemutan (tingling) pada ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, separuh jari manis dan separuh  telapak tangan sisi arah ibu jari, serta gangguan aktivitas tangan, bahkan otot pada telapak tangan bisa mngecil.
Seberapa sering terjdi?  
Studi penelitian yang pertama kali dilakukan pada tahun 1950-an tentang STK dilakukan oleh Phalen, menyatakan bahwa insiden dan prevalensi STK bervariasi antara 0,125% - 1% dan  5 – 16 % pada usia pertengahan dengan insiden yang tersering terjadi pada wanita, dengan puncak usia 55 hingga 60 tahun. Sebuah  penelitian terbaru dari Canterbury dan Huddersfield, Inggris, Bland dan kawan - kawan melaporkan, kejadian STK  pertahun sekitar 139,4 kasus per 100.000 pada wanita dan 67,2 kasus per 100.000 pada laki-laki, dengan rasio  sebesar 2,07 perempuan terhadap laki-laki.
Dr Irene mendapati, di Indonesia sendiri, khususnya di bagian Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,  tercatat  sebagian  besar  penderitanya adalah wanita dengan rentang usia 25 – 70 tahun. Demikian juga dengan data yang didapatkan dari poliklinik Neurofisiologi departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta sejak bulan Juli 2012 hingga bulan Desember 2012 tercatat kurang lebih terdapat 110 pasien terdiagnosa STK.


Mengapa bisa terjadi? Berikut saya sampaikan lebih dahulu letak syaraf medianus.

Anatomi Terowongan Karpal                                            
Terowongan karpal terletak di pangkal telapak tangan, pada arah jari setelah pergelangan tangan. Terowongan ini dibentuk oleh lengkungan tulang -tulang (karpal) dengan atap ligamen (karpal transversa). Di dalam terowongan ini berjalan  nervus medianus yang disertai sembilan tendon fleksor. 

Gambar 2.1. Anatomi Terowongan Karpal.
Dikutip dari : Katz JN, Simmons BP.

Saraf  medianus berjalan  di bawah ligamen karpal tranversa pada pergelangan tangan lalu masuk ke telapak tangan kemudian  bercabang menjadi dua. Cabang yang membawa sifat penggerak (motorik) mempesyarafi antaran lain ibu jari, Cabang pembawa sifat perasa (sensorik) mempersarafi sisi telapak tangan (volar) dari jari pertama sampai setengah dari jari keempat, dan aspek  dorsal ujung jari-jari.



Mengapa syaraf medianus bisa terjepit?
Segala sesuatu yang menyebabkan menyempitnya terowongan karpal atau membesarnya isi terowongan karpal akan menekan dan membatasi gerakan saraf medianus sehingga menimbulkan cedera tekanan dan gejala neurologis di arah jari dari pergelangan tangan.
Penyebab STK dapat mulai : idiopatik bila tidak diketahui penyebabnya, penebalan bungkus tendon ataupun jaringan parut pada selubung tendon (tendinosis) atau iritasi, inflamasi dan pembengkakan (tendinitis) akibat  gerakan menekuk dan melurus pergelangan tangan dan aktivitas menggenggam yang berulang. Pembengkakan pergelangan tangan akibat trauma tulang-tulang tangan (karpal),  patah tulang-tulang tanagan (karpal).
Kehamilan; obesitas; osteoartritis; kondisi sistemik seperti diabetes mellitus, amyloidosis, hipotiroidism, reumathoid arthritis. dan kekurangan vitamin B6.

Bagaimana memastikan Diagnosis
Diagnosis STK ditegakkan dari wawancara (anamnesa), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari wawancara (anamnesa) didapatkan adanya rasa baal dan kesemutan disepanjang distribusi saraf medianus, terbangun malam hari karena baal dan nyeri pada jari-jari tangan, keluhan berkurang dengan mengibas-kibaskan tangannya. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan kelemahan otot intrinsik tenar, abnormalitas two-point discrimination task, hasil positif pada tes provokasi seperti Phalen, reverse Phalen, Tinel atau tes kompresi saraf. Standar emas untuk pemeriksaan SKT adalah tes elektrodiagnostik seperti electromyography (EMG) dan Kecepatan Hantar Saraf (KHS). Untuk menegakkan diagnosis STK, pada pemeriksaan KHS medianus didapatkan latensi distal motorik > 4 milidetik dan perbedaan latensi sensorik saraf ulnaris-medianus > 0,4 milidetik.

Menurut Brotzman, CTS dibagi menjadi 4 derajat :
  1. Dynamic : munculnya gejala dipicu oleh aktivitas, asimptomatis, tidak ditemukan apa – apa pada pemeriksaan fisik.
  2. Ringan : terdapat gejala yang berkala, menurunnya sensibilitas sentuhan ringan, tes digital compression biasanya positif, tetapi tanda Tinel ataupun Phalen bisa positif bisa juga tidak.
  3. Sedang : Gejala sering terjadi, menurunnya persepsi getar pada distribusi saraf medianus, tes digital compression, Tinel dan Phalen positif, peningkatan two point discrimination, kelemahan otot - otot tenar.
  4. Berat : Gejala menetap, two point discrimination meningkat sekali / hilang, atrofi otot – otot tenar.



Penanganan
Penatalaksanaan STK berupa terapi konservatif (medikamentosa dan non medikamentosa) dan operatif.

Saya sampaikan penanganan yang non medikamentosa, berupa pemakaian bidai pergelangan tangan, latihan nerve and tendon gliding, terapi modalitas, serta modifikasi aktivitas yang menimbulkan gejala.

Bidai
Bidai pergelangan tangan pada STK digunakan pada permukaan volar untuk membatasi gerakan pergelangan tangan dan memposisikan pergelangan tangan dalam posisi  netral / sudut 0 untuk mengurangi tekanan pada terowongan karpal sehingga gejala STK yang dirasakan akan berkurang. Bidai diposisikan pada posisi netral karena secara anatomis tekanan dalam terowongan karpal paling kecil saat pergelangan tangan dalam posisi netral, dan tekanan meningkat saat pergelangan tangan digerakkan fleksi dan ekstensi.


Latihan Tendon and nerve gliding (TNGE)
Latihan TNGE dapat membantu mengurangi gejala STK. Latihan tendon gliding bertujuan untuk memobilisasi ekstrinsik tendon serta mengurangi tekanan pada terowongan karpal. Latihan mobilisasi saraf medianus bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ke saraf medianus sehingga membantu regenerasi saraf dan memperbaiki konduksi saraf. Rangkaian gerakan latihan dilakukan secara berurutan dimana pada tiap gerakan ditahan selama 5 detik. Semua gerakan diulang sebanyak 10 kali. Latihan TNGE dilakukan sebanyak 3 – 5 kali dalam sehari.

Tendon gliding exercise







Tangan Kiri                           Tangan Kanan
Tendon Gliding Exercise,  Dikutip dari : Kisner C, Colby LA.
Keterangan Gambar :
(A) Straight hand

(B)  Claw fist (hook)
(C)  Full fist
(D) Table top (intrinsic plus)
(E)  Straight fist

Nerve gliding exercise


  



 Tangan Kiri                      Tangan Kanan
Nerve and gliding exercise 
Dikutip dari : Kisner C, Colby LA.
 
Keterangan gambar :
(A) Pergelangan tangan netral dengan jari – jari tangan dan ibu jari fleksi

(B)  Pergelangan tangan netral dengan jari – jari tangan dan ibu jari ekstensi
(C)  Pergelangan tangan dan jari – jari tangan ekstensi, ibu jari netral rapat
(D) Pergelangan tangan, jari – jari tangan dan ibu jari ekstensi
(E)  Pergelangan tangan, jari – jari tangan dan ibu jari ekstensi, lengan bawah supinasi
(F)  Pergelangan tangan, jari – jari tangan dan ibu jari ekstensi, lengan bawah supinasi, ibu jari direnggangkan kearah ekstensi.
Bagaimana dengan sahabat saya:

Dari keluhannya, yang didukung seorang perempuan yang pastinya lewat dari setengah abad dengan berat badan yang tergolong bukan mungil, STK masih bisa dipertimbangkan.

Dear Grace Supena Sundah, coba dulu meletakkan tangan pada posisi lurus dan mencoba latihannya ya.


KEPUSTAKAAN


1.              Somiah A, Roy AJS, Review Carpal Tunnel Syndrome in The Ulster Medical Society, 2008.
2.              Data Rekam Medis poliklinik Departemen Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
3.              Data Rekam Medis poliklinik Sub Divisi Elektrofisiologi Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Juli 2012               - Desember 2012.
4.              Cailliet, R. (1975). Hand pain and impairment (pp. 11, 68-72). Philadelphia: FA Davis Company.
5.              Katz, J.N., Simmon, B.P. (2002). Carpal Tunnel Syndrome. N Engl J Med., 346(23), 1807-12.
6.              Neumann, D.A. (2002). Kinesiology of the musculoskeletal system foundations for physical rehabilitation (pp.216). USA: Mosby.
7.              Wibowo, B.S., Carpal tunnel syndrome in Jakarta. Neurona, Oktober 2008. 18(1).
8.              Ebeenbichler, Gerald. Ultrasound diathermy treatment for treating carpal tunnel syndrome: randomized “sham” controlled trial. British Medical Journal Volume 316, March 1998.
9.              Fremier M, Brushart, Coernblad, Kissel JT. Entrapment Neuropathies. In: Diagnosis and Management of Peripheral Nerve Disorder. London: Oxford University Press; 2001. p. 579-601.
10.           Joshi, S.D., Joshi, S.S., Athavale, S.A. (2005). Lumbrical muscles and carpal tunnel. J Anat Soc India, 54,12-5.
11.           Peterson, A., Kincaid, J.C. (2007). Rehabilitation of patients with neuropathies. In R.L Braddom (Ed.). Physical medicine and rehabilitation (3rd ed., pp. 273). Spain: Martin Dunitz.
12.           Michlovitz, S.L. (2004). Conservative interventions for Carpal Tunnel Syndrome. Journal of Orthopaedic and Sport Physical Therapy, 34 (10), 589-600.
13.           Gerittsen Annete, De krom marc. Conservative treatment options for carpal tunnel syndrome: a systematic review of randomized controlled trial. Journal neurology volume 249, July 2002.
14.           Baysal O, Altay Z, Ozcan c. Comparison of three conservative treatment protocol in Carpal Tunnel Syndrome. Int J Clin Pract 2006; 60 (7): 820-8.
15.           Akalin Elif, El Ozleem. Treatment of carpal Tunnel Syndrome with Nerve and Tendon Gliding Exercise. American Journal Physical Therapy Medicine and Rehabilitation. Vol. 81, 2002.
16.           Sudibyo Y. Tesis “ Manfaat Bidai Pergelangan Tangan dengan Sudut Nol Derajat Pada Carpal Tunnel Syndrome Idiopatik, 2000.
17.           Boongrid Praset. The Median Nerve. In: Compression & Entrapmnet Neuropathies. Bangkok: Swicharm Press; 1996. p. 48-65.
18.           Yuliani E. Tesis “Perbandingan Pengaruh Penggunaan Bidai Pergelangan Tangan dan Bidai Pergelangan Tangan – Metacarpophalangeal Pada Penderita Carpal Tunnel Syndrome, Oktober 2010.
19.           Santoso Wibowo B, Moeliono F. Materi Simposium Sindrom Terowongan Karpal. Cirebon. 20 Mei 1995.
20.           Michlovitz, S.L. (2004). Conservative interventions for Carpal Tunnel Syndrome. Journal of Orthopaedic and Sport Physical Therapy, 34 (10), 589-600.
21.           Brininger, M.A.J.T.L., Rogers, J.C., Holm, M.B., Baker, N.A., Li, Z.M., Goitz, R.J. (2007). Efficacy of a fabricated customized splint and tendon and nerve gliding exercises for the treatment of Carpal Tunnel Syndrome: a randomized controlled trial. Arch Phys Med rehabil., 88, 1429-35.
22.           Kisner, C., Colby, L.A. (2002). Therapeutic exercise foundations and techniques (4th ed., pp.441-57). Philadelphia: FA Davis Company.


Tuesday, November 10, 2015

Day 29 in NTUH Cardiopulmonary Exerciser part 2

Bismillahhirrohmanirrohim
Kembali ke Jakarta
Kamis diakhiri dengan pemberian sertifikat oleh CEO International Medical Service Center, pk 17 dan pk 18.30 dinner bersama keluarga prof Chen beserta 2 asisten yang selalu membantu
Pagi ini pk 6 akan diantar kendaraan dari NTUH ke Bandara Touyuan -Taipei
Alhamdulillah




Day 29 in NTUH Cardiopulmonary Exerciser part 1

Alhamdulillah
30 Juli 2015
Hari terakhir course
Mau omong apa
Hanya terucap puji syukur kepada Allah pengatur alam semesta
Tak ada yang terjadi tanpa kehendak Nya
Menutup eksplore Taipei dengan ke Taipei City Mall (lagi). Lewat jalur aman, melingkar Beimen. Mengikuti jejak dr Fenny, berulang kali berkunjung TCM.
Mengakhiri kuliner dengan (rasa) rawon Indo di resto Indo- Indorasa. Ngobrol dengan pemilik dan tamu.
Pulang dorm pk 19, melanjutkan packing
Dari Jakarta terkabar, buyut master Zaki (ayah saya) -93 tahun, yang setelah sakit dan di rawat pada Oktober dan November 2014, lebih suka di rumah, minggu lalu ngantor, 2 kali
Alhamdulillah..........
(Episode terharu)

Day 28 in NTUH Cardiopulmonary Exerciser

Pagi ke 28
Rabu terakhir
29 Juli 2015
Alhamdulillah, masih disertakan Allah sehat
Semalam istirahat saja di dorm dengan acara utama mengisi koper
Terisi dengan cepat karena baju sudah dilipat , disisakan tergantung untuk hari ini, besok dan Jumat
Saat minggu awal pertanyaan yang sering muncul "Ngga home sick"
Ho, (mungkin) ngga sempet karena waktu tersita dengan course yang diatur padat.
Ada literatur yang segera harus dibaca untuk memahami dengan cepat course yang diberikan
Suasana mulai santai di minggu ini. Minggu dan Senin membuat learning report. Selasa kemarin diserahkan. Hup...selesai .....
Dari jendela yang sama, Taipei nampak (menjadi) lebih indah.

Day 27 in NTUH Cardiopulmonary Exerciser

Pagi ke 27
Foto bersama dr. Chueh-Hung Wu.
Hari Selasa terakhir @Taipei
28 Juli 2015.
Pagi ini masih agak deg-degan dan lelah. Semalam pulang termalam sepanjang di Taipei. Pulang saat Lobby NTUH mulai temaram dan sudah sepi meski masih banyak yang disekitar Family Mart mengudap makanan hangat bahkan seorang bapak sedang menikmati ice cream.
Kalau anak kecil dilarang, pastinya akan semakin ingin tahu. Lha ini eyangnya master Zaki di larang ke Taipei Main Station, malah sudah 3 kali dan yang semalan nyaris kesasar. Huf, sudah menyiapkan nomer hp prof Chen.
Kok bisa? Kan saat hari Minggu pergi dan pulang dengan selamat?
Yang Minggu nurut rute sesuai anjuran dr Fenny. Dua kali kemarin, mrncoba cara sendiri. Dua kali di hari yang sama. Bandel ya.
Saat mengunjungi sepotong Indonesia di hari Minggu, terbaca lorong Y menghubungkan Beimen station dengan Taipei Main Station. Saya belum berhasil berjalan hingga ujung Taipei Station.
Penasaran, saya ingin tahu ujung Main Station. Lagi pula, mengapa dr Fenny selalu dar Beinmen ya?
Saat lunch,pk 12, saya keluar NTUH dan naik MRT ke Taipei Main Station. Hanya station berikut dari station NTUH. Cukup aman. Bingung dikit karena exit nya pakai kode M. Pengalaman ngga boleh pakai perasaan, tapi baca, saya lihat peta di dinding. Saya cari tulisan Taipei City mall dan City Blvd. Ho, M1 dan M2. Saya beruntung segera menemukan dan segera keluar ketemu Y,lorong gerai yang saya ikuti minggu sebelumnya, tapi dari nomer kecilnys Y1. Yang ujung Beinmen Y28.
Beruntung juga segera ketemu gerai souvenir. Menbeli kaos untuk mantu kemudian berjalan lagi, jumpa pashmina untuk besan. Belum sampai ujung Beinmen sudah pk 12.45, saya balik arah, masuk station. Agak bingung, saya ke information, mencari line 2 arah Xiangshan. Aman, sampai di station NTUH pk 13.
Lha, yang seru malamnya. Taipei Main Station bisa di jangkau dengan jalan kaki dari NTUH station. Ini menyebabkan saya ingin masuk Taipei Main Dtstion tanpa naik MRT, dari gerbang. Kesalahan saya, saya menduga akan dengan mudah menemukan exit M 1 dsn M2, jadi mudah mencapai lorong Y.
Jalanlah saya menjelang pk 19 dari dorm, masuk station NTUH exit 2 untuk ambil jalan pintas ke exit 3 yang sejalan lurus dengan Taipei Main Station. Masuk, saya cermati, pibtu saya masuk M8.
Lha...beda banget dengan station NTUH yang saya kenali dengan mudah arah 4 gatenya. Saya segera terserobok banyak orang dan area yang luas. Bukannya pulang, kok saya masih bandel mencari lorong Y ya.
Terfikir pada saya, ini kan Taipei, lorong Y pastinya ya cuma satu. Ngga seperti Jakarta, gang Mesjid ada di mana-mana. Saya kok juga ngga nanya ya.
Muter-muter naik turun, akhirnya saya menemukan M 3 yang arahnya brrlawanan dengan 8. Asumsi saya setelah M 3 dekatnya ada M1 dan M2.
Entah bagaimana saya seluduri jalan yang panjang setelah akhirnya menemukan tulisan Taipei City Mall. Hup, di ujung Y, tempat saya beli kaos. Sukses saya susuri hingga ujung Beinmen.
Tak banyak orang Indonesia. Lewat pk 20. Gerai martabak mulai bebenah. Resto Indo yang saya foto di hari Minggu malah sudah tutup. Seorang Indonesia tersenyum menngangguk. Saya sengaja memakai baju batik, agar dikenali orang Indonesia. Ada ucapan selamat idulfitri di suatu gerai dalam bahasa Indonesia. Ada peramal menawarkan tertulis dalam bahasa Indonesia ramalan membaca tangan dan wajah. He, ujung dekat Beimen Indonesia banget. Saya clinguk-clinguk cari oleh-oleh buat bungsu. Banyak gerai menawarkan action figure. Akhirnya menemukan yang tidak besar, mampu saya bawa. Sukses beli action figure untuk bungsu saya kembali.
Dari ujung lorong Y 1 , saya ikuti petunjuk menuju MRT. Lho, saya kok di tengah locker. Akhirnya saya menuju ujung MRT, saya tanya petugas, saya di suruh naik (lagi) dan putar balik arah. Yes. Kok masuk lagi diantara locker. Pada suatu persimpangan jalan, saya bingung memutuskan ke man, saya tanya seorang muda yang berdiri. Saya bertanya di mana M8. Saya ditunjukkan ke arah saya bisa baca peta. Saya ikuti arah petunjuknya. Lurus panjang, belok kanan, ada peta di dinding. Ternyata saya di area Taipei Railway station. Lha tadi pantesan di antara locker. Kalau Taipei Main Station ibarat pada ujung Utara Gambir, Tapei Railway di museum gajah, sedangkan Beimen di kedutaan Amerika. jadi saya kelilingan seluas Monas , naik dan turun.
Mengikuti peta. Alhamdulillah saya kenali jalan saat saya menuju lorong Y. Segera saya temukan M8.
Pulang.......