Tuesday, October 27, 2009

Ngojek kapal menjelajahi Kepulauan Seribu


“Ibu ngga punya kampung ya”, demikian asisten wara-wiri senior bertanya dengan serius lebih dari sepuluh tahun lalu. Rupanya , Amin, mulai heran , ikut sejak sulung lahirpun belum, setiap lebaran kami anteng nungguin Jakarta. Libur lebaran , tetep uplek gawe ke rumah sakit, agak bosan juga, akhirnya saya dan bungsu memilih pulang ke “kampung“ sulung, Kepulauan Seribu, yang “dipinjam” saat ikutan ajang Abang- None. Undangan mengunjungi Kepulauan Seribu ini sesungguhnya sudah kami terima sejak setahun yang lalu, tetapi saat itu cuaca tak memungkinkan, ombak yang besar, menyebabkan agustus 2008 kami urung ke Kepulauan Seribu.

Sabtu 26 September 2009, go show saja pada pk 11.00 dari poli di rumah sakit di kawasan Jakarta Barat. Dipandu tuan rumah , yang bekerja di RSUD (Rumah Sakit Umum daerah) kepulauan Seribu, kami menuju Muara Angke. Lha, Muara Angke ini kok ngga jauh dari kawasan gawe ndoro kakung, dan kampus anak di Pluit, tinggal beda arah dikit.

Memasuki ujung kawasan, ada kapal-kapalan, yang menurut bungsu , sudah lama ada disitu. Lanjut, wau, masuk deretan aneka “hewan” laut, pasar…. Kepiting besar-besar, capitnya ditelikung , agar ngga bisa njawil. Kerang hijau, di tumpuk pada wadah seperti pot bunga besar, cumi sebesar lengan. Weit, ada udangbesar, favorit saya, kalau ngga inget mau ke pulau, bisa ngider .

Dipandu karyawan RSUD Kepulauan Seribu , tujuan utama kami, segera kami menaiki kapal, di sarankan untuk di atas, agar tidak terlalu guncang dan dapat melihat pemandangan. Tuan rumah kami, masSugiharto, istrinya suster membantu saya, dan (dulu) mas Sugiharto pekarya saat saya masih di Puskesmas (bingung?). Saat sudah di kapal didapat informasi, tadi pagi sudah berangkat empat kapal, termasuk kapal yang harusnya pk 13. Entah siapa yang memelopori, sudah banyak yang duduk di kapal yang kami naiki , yang sesungguhnya tidak layar. Banyak penumpang, ada bule pula dua orang, maka si empunya kapal, pak Tile ( saya jadi tahu namanya)pk 12.45 berpidato, : Bapak, ibu, mohon persetujuan, bila berkenan membayar ongkos Rp 50.000, per orang, kapal (baru) akan berlayar . Biaya bahan bakar Rp 1.500.000,-. Kalau tarif biasa, Rp 30.000, tidak akan tertutup, biayanya. Tak terdengar riuh rendah, adem-adem, semua penumpang setuju. Pk 13.00 ,jam seharusnya berangkat, awak pak Tile menggelar tikernya, kami beringsut sedikit, ini pertanda pak Tile menganggap layak layar. Kapal bergerak meninggalkan dermaga pk 13.30.

Perjalanan mulus saja, tanpa gronjalan, cuaca baik. Saya mengamati sambil mengunyah gigitan bekal nyonya rumah , dan Edwin pun sudah tidur nyenyak sebelum mencapai pulau Onrust. Beruntung saya punya tuan rumah yang suka rela jadi pemandu, jadilah perjalanan laut saya menyenangkan. Ditunjukkan pulau-pulau yang kami lewati , Onrust dan rambutan dan pulau Untung Jawa yang di kunjungi bungsu bersama JGM Jakarta Green Monster) beberapa bulan lalu, juga pula pribadi (?) Ponco Sutowo.

Tiba di pulau Pramuka dua jam setelah keberangkatan, sandar pada dermaga, yang seperti halte bus, saya terkejut pada air yang bening putih bersih ditepi pantai dengan pasir putih lembut. Setelah sejenak beristirahat dan mengunjungi RSUD, kami berkunjung ke penangkaran tukik , dan kemudian mengitari pulau Pramuka. Pulau Pramuka merupakan pusat administrative kabupaten Kepulauan Seribu. Kantor Kabupaten didampingi RSUD yang keren. Di manalagi ada RSUD dengan “halaman depan” air putih dengan kapal bersandar?

Saat sudah menjelang magrib, nyonya rumah memilihkan tempat menginap di pulau Karya, naiklah kami ojek antar pulau yang pakai kursi, seperti bis. Selain pulau Pramuka dan pulau Karya, terdapat satu pulau lagi yang berdekatan, pulau Panggang. Pulau Panggang dipenuhi penduduk, sedangkan pulau Karya , tempat rumah dinas petugas Kabupaten. Kami menginap di rumah dinas Kesehatan.Rumah –rumah dinas ini, berbentuk panggung. Jarak pulau karya dan pulau Panggang dekat, pulau Pramuka yang agak jauh dari ke duanya, tetapi tidak sampai 10 menit ditempuh dengan ojek perahu.

Kami hanya semalam, tetapi cukup dapat pengalaman dan foto-foto yang menarik. Saya dan bungsu, esok paginya pulang lebih dulu. Ojek kapal cukup dipanggil dengan melambaikan tangan, maka singgahlah kapal yang bernama”Raja”, menjemput . (Raja bersandar di pulau Panggang, sebelum menuju basis keberangkatan resmi di pulau Pramuka, mampir ke pulau Karya.). Raja meninggalkan pulau Pramuka tepat pk 7.00, tiba di darat 2 jam kemudian. Bungsu dengan yakin menyodorkan Rp 60.000. saat di minta membayar, 10 menit sebelum sampai darat, “kondektur” pun meng “oke” kan….. (Bungsu membayari ibunya,….terima kasih ,nak)

Friday, September 18, 2009

Suguhan Lebaran:Kembang Goyang

Terinspirasi saat saya sukses menyuguhkan kue pancong dan ape yang segera licin tandas saat buka bersama, Kembang Goyang menjadi pilihan saya. Kue renyah ini, lebaranpun belum, suami sanggup menghabiskan lebih dari 5 potong setelah buka puasa. Konon ini makanan Cina Peranakan, dan Guruh pun mencipta lirik lagu Kembang Goyang yang dinyanyikan Chrisye: Kembang goyang aduhai. Senyam-senyum manise.Lenggang-lenggok aduhai. Indah ayu oh amboi.

Mau resepnya? Saya sertakan ya.

Bahan:95 gr tepung beras; 125 ml santan dengan kekentalan sedang; 1 telur; 20 gr gula pasir halus; garam

Alat : cetakan khusus kembang goyang.

Cara:1. Kocok telur dan gula hingga lembut;2. Masukkan tepung, santan, ragam3. Aduk-aduk hingga tercampur benar dan adonan licin; 4. Panaskan minyak di wajan: 5. Celup cetakan kembang goyang ke minyak panas, biarkan sebentar hingga panas; 6. Celup cetakan ke adonan, hati2 jangan sampai tertutup atasnya; 7. Celup lagi cetakan ke minyak panas, goyang2 hingga adonan lepas; 8. Angkat kembang goyang ketika berwarna kecoklatan.

Monday, September 14, 2009

Bank , kartu kredit dan sistem sel, kok seperti teroris

Berharap kemudahan , urusan kartu kredit ternyata malah (terkadang) membuat terjebak dalam kesulitan . Apa mungkin karena (semua) di outsoursing itu, sehingga seperti sistem teroris, antar sel tidak mengenal. He he, bagaimana saya sampai pada kesimpukan demikian?

Saya mempunyai pengalaman (yang mungkin belum selesai) tentang kartu kredit bank nasional tenar. Seorang petugas yang katanya dari kantor pusat suatu bank nasional menawarkan, saya oke kan, karena jadi satu dengan bank tempat rekening gaji kerja. Tanya jawab pertelpon, oke-oke saja. Pertanyaan membuat kartu standard. Masalah di mulai ketika kartu datang, dan akan saya aktifkan. Tidak bisa diaktifkan , karena saya belum pernah ngisi application form. Lho ,ya memang ngga ngisi, wong “ditawari” . Hebatnya , tidak bisa diaktifkan, kok, sudah ada tagihan?
Oke, saya pergi ke cabang yang sering saya datangi, dibantu petugas customer service yang manis, mengisi form. Tentang tagihan, mbak yang cantik tanya atasannya, jawabannya :”Abaikan saja”. Beberapa hari kemudian customer service cantik yang membantu mengisis application form menelpon: Bu, telpon no…., untuk di aktifkan. Kartu kredit tidak segera saya aktifkan , karena saya berencana mengaktifkan di depan mbak customer service yang ramah . Namun, tagihan muncul lagi, dengan bunga. Mengingat jawaban saat di bank kantor cabang tempat saya mengisi form, dikatakan diabaikan ya , saya diamkan. Sementara itu, sel lain dari bank bergerak, menelpon ”Selamat, kartu sudah aktif” (???), di tawarkan asuransi kartu kredit. Lho…, kan saya belum mengaktifkan?

Kerja yang padat, membuat sampai bulan ke lima tahun 2009 saya belum (merasa) mengaktifkan kartu kredit. Wah, drama kartu kredit, datang surat “ancaman”, menyebutkan (akan) menggunakan pihak ke tiga untuk menagih tagihan yang semula Rp 75.000,- dan saat itu sudah menjadi sekitar Rp 300.000,- . Jengkel ,saya kembali ke cabang yang saya kenal, saya bayar (saja) plus saya minta ditutup meski merasa belum pernah membuka. Pimpinan cabang bank yang saya datangi berbaik hati menawarkan bantuan untuk meminta “keringanan” . He he, kalau keringanan engga usah, kalau tidak membayar, oke. Penawaran kartu kredit terjadi bulan Oktober 2008, ancaman muncul bulan Mei 2009. Lha awal Oktober 2009 ini muncul tagihan sekitar Rp 400.00,- Asisten ke customer service, saran yang diberikan:Abaikan saja. Saya file, dan sekarang menunggu kisah selanjutnya dari sel yang lain.

Paling tidak saya tahu ada sel penawaran, sel penagihan, sel asuransi, sel debt collector , dan entah sel apa lagi ,yang masing-masing bekerja sendiri- sendiri (mengejar target), tanpa koordinasi ……