Wednesday, July 20, 2011

Pak Dokter “menyimpan” lengger





<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Sabtu pertama,Juli 2011, mendadak Purbalingga karena dr Mulyadi Yanto mengundang. Dr Mulyadi kawan kami mukim di Purbalingga. Panggilannya Jiang, tentu saja dengan cepat diketahui, pak dokter ini Indonesia bersuku Tionghoa. Tionghoa ditetapkan menjadi salah satu suku di Indonesia berdasarkan Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Pak dokter yang juga anggota DPRD kabupaten Purbalingga masa bakti 2009- 2014, komisi A merupakan perwakilan partai yang berlambang banteng moncong putih, mengundang syukuran pernikahan putranya , dengan kata kunci pesta rakyat dan lengger.

Saya segera mencari penjelasan lengger. Saya mendapati istilah ronggeng sebagai padanan lengger, lengger dan ronggeng dibedakan oleh wilayah sebarannya. Lengger lebih berkembang di sisi kiri aliran sungai Serayu, sedangkan ronggeng berkembang di sisi kanan sungai Serayu. Namun pada intinya kedua-duanya sama, tarian rakyat yang diiringi dengan menggunakan perangkat musik calung, krumpyung ataupun ringgeng. Pak polisi yang ikut mengamankan jalannya pesta rakyat dr mulyadi menceriterakan kepada pak Slamet, asisten wara-wirinya dr Bimo, lengger ini dulu pernah dilarang, dan dr Mulyadi berusaha menggali kembali kesenian daerah Banyumas yang konon dilarang karena dianggap melanggar Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi.

Dari Slawi sekitar pk 16, kami sampai di kediaman dr Mulyadi sekitar pk 19. Ini pesta babak ke tiga. Hari Jumat malam, pesta untuk kerabat desa tempat dr Mulyadi mukim dan bekerja, barangkali lebih tepat tetangga, namun bukan Cuma tetangga kanan dan kiri, tetapi tetangga desa. Sabtu pagi pejabat sedangkan malam kami datang, pesta rakyat untuk konsituen dr Mulyadi berasal, pesta rakyat dan dr Mulyadi mengeluarkan simpananya, lengger.

Pesta rakyat ditengarai dengan kehadiran tamu dr Mulyadi dari segenap lapisan masyarakat, ngga perduli bersandal jepit ataupun bersepatu import. Lintas agama tampak dari asesori busana panitia dan tetamu. Dr Mulyadi menyambut kami langsung di depan pintu, sampai kami perlu mendapat penjelasan, bahwa yang kami salami pengantinnya, he, pesta rakyat dalam acara ngubduh mantu, kalau menurut istilah Jawa, pengantin tidak berbusana resmi, jas dan gaun berenda yang berekor. Pengantin dan seluruh keluarga berbusana batik nuansa merah sesuai warna partai dr Jiang.

Lengger di tampilkan pk 21.00 hingga pk 23.00. tiga dara cantik bernama jeng Desi, jeng Yanti, walah, satu lagi lupa, dandan cantik bersanggul dengan bunga melati ala bu Tien Soehato. Diiringi dua sinden dan seperangkat gamelan ke tiganya menari lincah enerjik. Setelah dua tarian berturutan, yang menguras tenaga sehingga keringat bercucuran, mulai tampil penonton laki-laki dengan saweran. Malam mulai hangat, sampur berpindah ke tetamu, tidak terbatas tetamu lelaki. Bu Iwil ikutan nyawer, agar ke tiga lengger dapat saweran semua. Penabuh gendang utama memandu acara dengan penuh semangat. Lengger selesai menjelang pk 23. Penari dan pengiring dengan dua sinden lelah namun tampak bahagia. Kami merupakan tamu nyaris pertama dan nyaris terakhit. Pk 23 meninggalkan Purbalingga, lewat Purwakarta kembali ke Slawi. Tiba di Slawi pk 2 dini hari. Sepanjang jalan saya dan bu Eva tidur, bu Iwil menemani asisten wara-wiri dengan mengajak berbincang. Saya mendengarkan ambil sebentar merrem, sebentar melek.

Saya masih ingin kembali, mengamati simpenan dr Mulyadi, lengger dengan 2 perangkat gamelan yang berlatih 3 kali per minggu. Mau ikut?

Thursday, July 14, 2011

Nury dan SURAT TANDA REGISTRASI ( STR )



<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Kedokteran Indonesia ( KKI ) kepada dokter yang telah di registrasi.

Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap dokter yang telah memiliki SERTIFIKAT KOMPETENSI dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk melakukan tindakan profesinya.

Setiap dokter yang melakukan praktek kedokteran di Indonesia wajib memiki STR.
Untuk memiliki STR tersebut, dokter mengajukan permohonan kepada KKI

Tiga baris kalimat di atas saya unduh setelah penelusuran dengan Google. Tersurat dan tersirat, praktek dokter berkaitan erat dengan masalah hukum. Kaitannya dengan kompetensi, dan untuk menjaga dan agar kompetensi diakui, ada jenjang yang harus dilalui. “Keadaan” ini diketahui sebagian masyarakat, dan lha kok ada ya, yang hendak memanfaatkan. Saya share pengalaman detik-detik terakhir STR saya. Cukup seru

STR saya yang pertama diuruskan sala satu RS tempat saya gawe paruh waktu, sekretaris Komite Mediknya sangat perhatian, karena mengurusnya bersama-sama, dipastikan masa berakhirnya bersama pula. Saya termasuk rombongan yang STR akan berakhir November 2011, berarti SIP (surat ijin praktek), beberapa bulan kemudian. RS paruh waktu saya menyediakan berkas-berkas, sekitar bulan Februari 2011, lalu saya lanjutkan dengan berkas dari RSCM, sebagai pendidik, pelayanan kesehatan dan peneliti. Sekitar Maret 2011, berkas yang tidak sederhana mengumpulkannya, karena menyangkut beberapa sumber administrasi, diserahkan ke PB PERDOSRI (Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik) di Cakalang Rawamangun. Jenjang yang kemudian ditempuh, berkas lanjut ke Kolegium 7 April 2011, selanjutnya tercatat surat kompetensi saya diterbitkan kolegium awal Mei 2011.

Tenang-tenang manis, saya diberi tanda terima berkas untuk STR ang diteruskan ke KKI oleh Kolegium, pada tanda terima terbaca bulan 26 Mei 2011. Siang 30 Juni 2011, saya mendapat sms dari nomer yang tidak saya kenal. SMS saya balas : “Mohon maaf , dengan siapa ?”, dijawab “Saya Ibu Gretta”.

Bingung menyikapi sms”aneh” saya lapor ke dr Umi sebagai sekretaris PB, dan di jawab akan di urus sekretaris. Saya juga menghubungi Humas KKI dengan massage pada FB agak “bersayap” , karena mengira penepon dari KKI:

Ayu, masih di KKI? Sampaikan terima kasih ke ibu Gretta, yang memberitahu STR saya sdh selesai. Fida dari PERDOSRI yang akan mengambil.

Saya bersikap ekstra hati-hati, karena pada aturannya, saya akan menerima STR saya melalui kantor pos, dan kantor pos untuk STR saya, kantor pos Daan Mogot. Ini juga berdasarkan hal yang dialami suami saya, yang bahkan ditelpon, mengatakan dari kantor pos, suami saya segera ke kantor pos Daan Mogot, dan berjumpa dengan pak Kahar, yang mengataka, tidak ada penugasan kepada personil kantor pos untuk menghubungi no telpon. STR suami saya sampai beberapa hari kemudian, setelah ada surat pemberitahuan dari kantor pos Daan Mogot. Tadinya saya menduga telpon yang saya terima dari KKI, namun setelah mencermati kembali sms yang saya terima, ternyata bukan dari KKI. SMS nya tertulis:

Met siang Ibu NURY N

dr, Sp KFR maaf

mengganggu ini STR ibu dri

KKI sdh ada .utk imfo lbih

lanjut silahkan ibu

menghbungi no ini

trimakasih..

Saya kutipkan tepat tiap kata. Saya cuekin, “bu Gretta” menelpon hari Senin siang, dengan jelas mengatakan : Ibu terima sms? STR ibu akan kami kirimkan ke kantor pos Jakarta Barat dan bisa diambil hari Rabu. Saya lihat no telpon, dengan kepala wilayah Jakarta Selatan.

Rabu pagi saya segera ke kantor pos Daan Mogot, dengan membawa tanda terima dari KKI, berjumpa pak Kahar. Senang berjumpa dengan pak Kahar yang mau mendengarkan “cerita’ saya. Rabu pagi pk 8.15, STR saya belum ada, sesungguhnya STR diambil dengan membawa pemberitahuan, yang segera dibuat pak Kahar, begitu STR kita sampai di meja kerja pak Kahar. Pak Kahar berbaik budi dengan melihat catatan, dan lemari penyimpan. Sekitar pk 13.00 pak kahar menelpon, memberitahu, STR saya sudah sampai di meja pak Kahar. Pak Kahar menelpon, karena saya datang pada pagi harinya, aturannya tidak demikian. Saya kembali ke Daan Mogot Kamis pagi, sampai pada jam yang sama pk 8.15. saya hanya menyerahkan foto copy KTP dan menanda tangani tanda terima.

Bagaimana bisa terjadi? KKI terletak di wilayah Jakarta Selatan. Semua berkas dibawa ke kantor pos Jakarta Selatan, untuk kemudian didistribusikan ke kantor pos wilayah pemegang STR. Keadaan ini dimanfaatkan oleh ibu Greta, karena pada sampul STR tertera lengkap nama, alamt no hp dan telpon rumah. Menurut info, bila merespon telpon atau sms, akan ditawarkan diambil di kantor pos Jakarta Selatan atau diantar, dengan biaya. Jelas tertulis pada amplop STR, tertulis pada pojok kanan:

-Pengiriman STR melalui pos telah dibiayai Konsil Kedokteran Indonesia

-Tidak ada biaya tambahan dalam pengiriman STR

Terima kasih pak Kahar

Para dokter, semoga lebih berhati-hati.

Naik kereta api….tut..tut..tut……………….




<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Tidak mengerti dengan jenis atau kelas dalam perkereta apian, saya mengiyakan saja saat diberitahu kami (saya dan dua teman lagi) akan menumpang Cirebon Expres (Cirex) dengan kelas bisnis. Pulang dari Tegal di hari terakhir libur sekolah,hari minggu ke dua Juli 2011, ternyata semua ticket terjual habis. Ticket di pesan dari Jakarta, saat di Tegal, dr Iwil , kepala regu merangkap seksi transportasi,saat menukarkan bukti pesanan dengan ticket, mendapati pembeli karcis tanpa nomer kursi. Kami mendapatkan karcis seharga Rp.85.000 dengan nomer kursi, dijual seharga Rp. 18.000 tanpa kursi, terbayang akan uyel-uyelan.

Ini kereta api ketiga saya tahun 2011, sebelumnya, bulan saat pulang pergi Klaten, kami berangkat dengan Argo Dwipangga dan pulang dengan Argo Lawu. Tahun lalu saat ke Pekalongan mondar-mandir dengan Argo Anggrek dan Argo Bromo. Saya search google dan mendapati pada Wikipedia, kelas-kelas perkereta apian. Tertulis kelompok Argo merupakan kelas tertinggi. Selanjutnya ada kelompok Retrofit, sekelas Argo, tetapi bukan Argo. Setelah itu kelas public. Cirex termasuk kelompol kelas public, terbagi atas kelas exekutif dan kelas bisnis. Kereta Bima, yang seingat saya kependekan dari Biru malam termasuk sekelas dengan Cirebon ekspres. Saat saya mahasiswapun belum, ayah saya masih anggota DPR-RI, sering menjenguk eyang di Surabaya dengan Bima. Kursinya dulu bisa dijadikan tempat tidur, tidak ruang terbuka bersama, namun dalam bentuk ruang, berdua dalam satu kamar, merupakan kereta api unggulan pada masa itu. Bima sekarang bentuknya seperti apa ya? Kelas dibawahnya lagi merupakan kelas komersial , mencakup kereta eksekutif dan bisnis. Termasuk disini kereta Senja Utama, yang menjadi inpirasi lagu Kereta Senja yang popular tahun dinyanyikan Masni Towijiyo. Selanjutnya Kelas ekonomi unggulan dan kelas ekonomi. Kereta kelas ekonomi unggulan dan ekonomi tidak saya kenal atau pernah saya kenal, sepertinya belum pernah jadi rute saya.

Mendadak ke Tegal, pergi dengan travel, pulang cari sedapatnya, dapatlah kami Cirex yang kelas bisnis. Pada Wikipedia tertulis melayani Gambir – Cirebon, ternyata kereta api ini melayanni Gambir- Tegal. Cirex dari Tegal pk 6.00 pagi, pada papan di setasiun Tegal tertulis tiba di Gambir pk 10.32. Menurut saya jadualnya cukup tepat. Pk 10.32 sudah mendekati setasiun Jatinegara. Dua teman turun di setasiun Jatinegara, beberapa saat sebelum Jatinegara, terpaksa pindah beberapa gerbong ke depan. Cirex yang cukup panjang, 5 gerbong exekutif, kereta makan, dan tiga gerbong bisnis, gerbong kami gerbong bisnis no satu, sehingga paling ujung belakang, dipastkan gerbong terakhir pastinya pada wilayah yang ketinggian lantai setasiun dan pintu masuk gerbong sangat tinggi. Seorang teman sudah tak mungkin turun sangat tinggi, sedangkan sekarang layanan kereta api tidak lagi menyediakan tangga untuk naik turun kereta api.

Saya ingat-ingat saat masuk gerbong Cirex, saya mengenalinya seperti dalam gerbong kereta Limex (itu dulu). Limex merupakan kependekan Limited Expres , rute Jakarta Surabaya , kalau tak salah. Masa jayanya kereta api, Limex dingin ber AC, ini berkipas angin, 4 buah pada gerbong kami. Pada Limex dulu yang merupakan kereta malam, ticket kereta, termasuk makan malam. Kereta yang dulu bersih, dengan layanan pramugari dan pramugara kereta api, sekarang tampil seadanya, bahkan saat turun di Gambir, saya melihat bagian luar kereta api yang sudah berkarat. Apa ini bekas Limex ya? Cirex kami akan kembali lagi ke Tegal, terjadual pk 11.00. saya dapati keterangan ini dari penumpang yang naik dai jatinegara, sekeluarga, bapak ibu dan tiga anak. Sang ayah mengatakan ke pada rombongannya,”duduk saja, cari yang kosong”. Segera kelompok keluarga yang akan ke Tegal ini menempati bangku kawan saya yang turun di Jatinegara. Mungkin membeli karcis yang Rp 18.000,- ya.

Kereta api sejenis Argo pun tak mengalahkan service kereta api masa saya masih sering mondar-mandir Jakarta – Surabaya. Saat ke Klaten menghadiri gawe dr Loyke, kereta apa kami Argo Dwipangga, dengan tempat meletakkan barang seperti pada cabin pesawat, terkotak-kotak dan ada tutupnya. Kami meletakkan barang, terbiasa di pesawat, yang pintu bagasi cabin ditutupkan pramugari, kami diamkan saja terbuka, he, sampai berjalan ya tetep terbuka, regulasinya ternyata menutup dan nantinya membuka untuk mengosongkan sendiri. Pulangnya dengan Argo Lawu, tempat barang seperti kereta api biasa, namun kondekturnya rapi dan lumayan ganteng, sementara saat pada Argo Dwipangga,pak kondektur seperti habis mandi bru-buru karena terlambat bangun. Pada Argo Lawu saat kembali dari Klaten, kacanya tampak “pecah” dan memang saat lepas Cirebon, saya terkaget karena memang ada yang melempar dengan batu.

Kalau Cirex sepertinya bekas Limex, apa kelompok Argo bekas kereta api dari Jepang ya?




Sate Kambing Batibul Tegal Bang Awi






<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Jumat ke dua bulan Juli 2011, malam hari berangkat dari Jakarta, sampai di Tegal sekitar pk 10 esoknya, tiga ibu yang “berpetualang” , saat menunggu dijemput, di emper ruko belum jadi arah belakang setasiun Tegal sudah merancang brunch. Dipandu dr Iwil, kami memilih sate dan sop kambing Batibul. Nyonya rumah, dr Tini Bimo dan putrinya, yang menjemput kami dari kediamannya di Pangkah-Slawi, membawa kami ke Sate batibul bang Awi Jalan Raya Ujung Rusi Adiwerna, Tegal.

Sepanjang jalan, dr Iwil mencekoki saya dengan dongeng keistimewaan kambing batibul, yang (ternyata) bila dipanjangkan bawah tiga bulan. Empuk, kata bu Iwil, iyalah, lha belum tua. Tiba di tempat, saat para teman mengunjungi wilayah perairan alias toilet, saya berkeliling membuat foto. Saya nurut saja, dipesankan apapun. Terkisah, pesan sate di Tegal bukannya per tusuk, atau 10 tusuk per porsi, tetapi kodi. He, saya ngga mengikuti perkodian, saat makanan dipesan saya mengamati jajaran teh. Tegal, identik dengan teh, saya dapati tehnya harum, tanpa apek, betul-betul segar. Saya tentu saja senang saat dipesankan teh lengkap dengan pocinya, dengan gula batu.

Hidangan muncul serentak, sate kambing disertai kecap dengan potongan tomat dan bawang merah. Sop kambing dengan wotel segar, tidak lodoh kematengan. Dr Tini Bimo sebelumnya sudah menjelaskan, kuah sop yang mendidih, dituangkan pada potongan sayur, hingga sayurnya sangat segar. Pada mangkuk sop, daging kambing masih melekat pada tulang, tulang yang kecil, karena kambingnya memang masih kecil.

Sate kambingnya empuk, tidak terasa lemak yang biasa mengganggu dan tanpa prengus. Tidak sempat menanyakan bumbu, saya search bumbu batibul, lho, ada susu kambing pada bumbu perendam daging.

Sruput……teh Tong Tji melengkapi brunch kami.

He, ada cabangnya di Saharjo,mudah terjangkau dari RSCM. Monggo, kalau berminat, jangan lupa jemput saya ya……