Friday, March 30, 2007

Seputar kita .....

Lu orang…..

(Berbahasa yang baik dan benar ,sesuai kaidah …….)

Pada Intisari terbitan Maret, ada ulasan, orang tua murid disebut “anda”, marah. Mari kita cermati kecenderungan berbahasa , yang tak sesuai kaidah bahasa Indonesia, namum ”populer ” di kalangan tertentu. Kalau mengamati suku Tionghoa, yang populer: Lu orang, untuk menyebut orang ke dua. Sedangkan ”Kita” untuk kalangan tertentu menyatakan ”saya”. Contoh yang dengar dari suatu tayangan televisi swasta saat mewawancarai : ”Ya, gaji cukup. Kita kan harus membantu perekonomian keluarga”.

Rupanya , berbahasapun harus mengikuti ”kaidah” tak resmi.

Kenangan bersama ayahku......

(Rujak) cingurku……….

Saat kami masih tinggal di Malang, rujak cingur yang terkenal, rujak cingur jalan Kawi dan lapangan tennis. Kami sering membeli , dan ada “peraturan “ tak tertulis, seluruh cingur di rujak siapapun akan di ‘setor” kan untuk saya. Suatu hari Minggu, kami ayah saya, ibu, kakak , saya dan adik saya makan rujak bersama, dan semua cingur pindah ke piring saya. Saya menyisihkan seluruh cingur untuk “penutu”. Belum sempat saya makan cingurnya, ayah saya meminta saya mengambil air minum . Ketika kembali dengan membawa air minum, lho……. Cingur saya kemana? Ayah saya mengira saya tidak mau cingur , jadi ……....., diberikan kucing.!!!! Huaaaa………………………………………..

Sejak itu saya merubah kebiasaan , yang saya sukai akan menjadi makanan pembuka, bukan penutup !




Baju ulang tahunku………………….

Mirip rujak cingur, terjadi pada baju ulang tahun . kami sudah di Jakart. Menjelang ulang tahun saya di beri ayah saya uang, untuk membeli baju. Dapatlah baju cantik berenda coklat. Peraturan ibu, (terutama karena saya alergi debu) baju baru harus dicuci dulu sebelum dipakai. Nah, terjadilah bencana!

Sang renda luntur, ......... meninggalkan noda-noda tak bisa hilang.

Kebiasaan saya yang saya pertahankan hingga kini : baju baru atau apapun....... pakai dulu. Gatelen......., minum obat !!

Jakarta 24 maret 2007

Saturday, March 24, 2007

Seputar rumah sakit (3)


Saur dulu bu dokter………

Seorang pasien saya kirim ke sejawat penyakit dalam untuk dilakukan endoskopi. Endoskopi dikerjakan pagi, dan saya ikut. Pukul 7.00 kami bersiap. Pasien kami panggil , sambil bersiap saya bertanya kepada pasien, makan jam berapa terakhir pak: Pk 4.30 , dok. Wah, kami terkejut. Melihat kami terkejut, pasien kami melanjutkan keterangannya : Kan dokter suruh puasa, jadi saya saur tadi pagi.

……………………………………… ??????????


Jakarta, 10 Maret 2007


“Foto basah”

Ini kisah foto roentgen lagi. Tapi yang “terlibat” siswa perawat. Seorang siswa perawat yang magang di ruangan suatu rumah sakit diminta perawat senior untuk mengambil foto basah di ruangan radiologi. Terminologi “foto basah” kami pakai untuk foto yang belum di “baca” dan diberikan jawaban tertulisnya oleh spesialis radiologi. Nah, si adik, demikian kami menyebut / terminologi untuk siswa yang magang, dengan patuh berangkat. Sampai di bagian radiologi, setelah menerima roentgen pasien yang di minta, si adik tidak mau menerima. Mengapa? Karena foto roentgennya kering……….., si adik takut di marahi kakak perawat, ngotot minta foto basah!

Kebayang kan , betapa bingung petugas di bagian radiologi……….


Jakarta, 10 Maret 2007

“ Foto”

Ini kisah dengan sisi yang lain. Saat itu hari Jumat, saya harus rapat pk 9 pagi hingga pk 11.00. Saya berpesan melalui SMS kepada Peserta Program Studi Dokter Spesialis (PPDS) untuk mem ”foto”, seorang pasien ,ibu Fatimah. Saat saya kembali pk 11.30, PPDS yang bersangkutan memberitahu, bu Fatimah sudah di beri pengantar thoraks foto. Nah lho, padahal yang saya maksud foto (biasa) untuk dokumentasi !

Istilah ”foto” rupanya bisa berbeda ya pengertiannya .........................

Jakarta, 18 maret 2007

Monday, March 19, 2007

Komentar untuk artikel - 85 tahun ayahku


Di bawah ini sebagian komentar cinta untuk ayah kami, terima kasih.
Ibu Henny ini dalam artikel saya yang lalu yang disebut ibu Adenium oleh Atun dan beliau menginspirasi saya untuk menulis tentang : Ishiatica pain di blog saya : rehab-med.blogspot.com

dr Urip Murtejo,
suami sepupu saya. The famous doktor from RS dr Soetomo. Ingat " face off" ? Nah , beliau rajanya

nury
20 Maret 2007
rehab-med.blogspot.com tanpa-pita-suara.blogspot.com larngectomees.blogspot.com ----------------------------------------------

Wah bu dokter,tentunya sangat bahagia sekali ya, bu dokter masih diberi kesempatan untuk merawat keng romo,dan begitu banyak kenangan indah masa kecil yang masih bisa diingat dalam canda kebersamaan seluruh keluarga tentunya kalau sedang kumpul-kumpul. Saya jadi ingat waktu masa kecil, dimana saya belum sekolah, tengah malam saya dibangunin bapak saya hanya untuk mencoba baju yang dibelikan bapak, setelah dewasa saya baru ngerti betapa bahagianya bapak saya pada saat itu, karena telah bisa membelikan baju untuk putro-2 nya, padahal jaman itu adalah jaman susah dan bapak saya hanyalah seorang guru SD. Bu dokter kaaturaken sugeng ulang tahun dumateng keng romo bu dokter, mugi-mugi tansah pinaringan yuswa panjang ugi kawilujengan saking Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

- heni -

March 19, 2007 2:56 AM



wa kami semua sudah baca blog nya Budhe dan Mbak nury. terharu dan menyenangkan ya. kami di surabaya semua mengucapkan selamat ulang tahun ke 85 buat Pakde dan Eyang Mardhanus. smoga sehat selalu.

- Kel Urip Murtedjo -

March 19, 2007 3:18 AM



Ini ayah saya dan anak saya Edwin. Sekarang "hanya" 120 kg dan Edwin 100 kg
Foto diambil saat ulang tahun ke 84- tahun lalu.


kelsoeradji said...

Selamat Ulang Tahun Kagem Eyang Mardhanus. Semoga sehat selalu.
Kami semua sudah baca blognya budhe dr. Nuri, bagus,lucu dan juga terharu.

dari kel alm.dr. Bambang Yudoasmoro beserta kel. besar Bpk./Eyang Soeradji di Surabaya

March 20, 2007 3:38 AM







Sunday, March 18, 2007

85 TAHUN - AYAH KU- EYANG KU






Ayah saya, saat asisten 3. KSAD saat itu jendral Umar Wirahadikusumah.



Hari Ini, Senin 19 Maret 2007, ayah saya berusia 85 tahun.

Kami mengenang masa kecil kami. Ada yang ingin serta?

Semoga kenangan ini jadi hadiah yang indah.



Rambutan ( dan Letnan Jendral Sudirman)

Saat SMP, kami masih tinggal di kompleks Gelora Senayan , bertetanggaan dengan Rudy Hartono, pada awal kariernya. Kalau sore, Rudy main disekitar rumah. Tepat sisi kiri ,rumah pak Osa Maliki, ke dua rumah kemudian Let. Jen Sudirman, ayah pak Basofi Sudirman. Kedekatan rumah dan kedekatan ayah saya dan pak Sudirman membawa banyak kenangan, salah satunya peristiwa rambutan.

Kami sering ke Bandung, dan ayah saya senang menyopir sendiri. Pak Dirman (begitu kami menyebut), punya rumah di Bandung. Kalau kami ke Bandung beliau menitipkan sesuatu untuk putrinya , mbak Ida. Mobil kami saat itu jip Toyota, dengan pintu bukaan di belakang.

Perjalanan ke Bandung saat itu cukup lama di tempuh. Entah apa yang dipikirkan ibu Sudirman, beliau menitipkan seonggok besar rambutan, rambutan rapiah pula. Kebayang tidak, 2 murid SMP, dan 1 murid SD, duduk menghadapi rambutan di depan mata. Wah, tentu saja sang rambutan jauh dari keselamatan. Baru keluar kompleks, kami bertiga sudah mulai menyantap, ibu saya senpat marah, ayah saya bilang boleh. Ibu sampai meminta ayah saya berhenti sejenak dekat jembatan Semanggi , beli rambutan sendiri. Tetap saja yang termangsa kami lebih besar dari pasokan ibu, dan saat menyerahkan di Bandung, mbak Ida menawarkan untuk mengambil beberapa ikat. Tak perlu dua kali ditawarkan, langsung disambut ayah saya.

Lho, rupanya ayah saya juga ingin menikmati rambutan seperti yang kami lakukan sepanjang jalan, padahal kami sudah “menyuapi” rambutan sambil ayah saya menyopir.

Kurang ni ye ………………………..

( Bapak dan ibu Sudirman tetap tidak kapok, titip terus, dan kami makan terus. Jangan-jangan kirimnya banyak, karena sebagian memang untuk kami ya. Hallo Dr, dr Laila Nuranna SpOG, apa kabar).


Monggo ……………………..

Yang ini saya tidak ingat, ibu saya yang menceriterakan. Saat kecil , mobil dinas ayah kami kalau tak salah ingat namanya : gas . Terbuka di belakang. Saya dan kakak saya selalu duduk di ujung kursi . suatu saat, ketika ayah kami mengisi bensin, pedagang asongan menyodorkan makanan kepada kami. Saya dan kakak saya mengambil, kami mengira memang di suguhkan. Setelah itu, tinggal ibu yang dapat kejutan. Si pedagang asongan ke depan, minta uang tentu …….! Kami sih asyik saja menikmati ”hidangaan”.

Berkibarlah benderaku ………………!!

Ini rahasia saya dan ayah saya. Barangkali beliau juga tidak ingat. Ayah saya kan ”hobby” jadi komandan, mobil saat peristiwa ini terjadi, sedan , ”besar” sekali (entah saya yang masih kecil atau sedannya yang memang besar). Di sisi kanan atau di tengah ya (saya lupa) luar ada tiang bendera kecil. Apa yang terjadi, saya di ”pajang” oleh ayah saya berdiri di depan mobil , berpegangan bendera. Mobil keluar rumah, ke jalanan....... dengan saya sebagai bendera!

Di jalan berjumpa polisi, di stoplah ayah saya. Entah apa yang di bicarakan, saya di minta ayah saya mesuk mobil, pak polisi memberi hormat setelah meminta SIM ayah saya, dan lanjutlah perjalanan kami.

Terima kasih ,pak . sayang saya tak tahu nama beliau