Showing posts with label bharatayudha. Show all posts
Showing posts with label bharatayudha. Show all posts

Friday, March 4, 2011

Nonton bareng wayang orang Bharata: Abimanyu Gugur











Mendapati sulung dan bungsu “tidak menolak” nonton wayang orang, ulang tahun ayahnya 26 Februari 2011, saya upayakan nonton wayang orang. Berempat terasa kurang rame, saya mulai awal Februari mencari tambahan peserta nonton. Mbak Melani dan mas Bayu merespon dengan cepat, ditambah kelompok teman, pak Deddy Iskandar dan Frando Gasparez, plus teman Frando, diajak Frando karena Frando mencari penejemah dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

Dunia segitu sempitnya, ternyata mbak Melani dan pak Deddy Iskandar berteman sejak lama. Karcis dipesan untuk 10 orang, pada deret E mendapat nomer 8 hingga 15. Sulung dan bungsu pada jajaran F. Saya mengambil kursi dekat lorong “privilege” saya, he he, agar bisa membuat foto. Sebelah kanan saya kosong, karena prof Santoso Cornain tak bisa hadir, kemudian ayah sulung dan bungsu, ke kanan, teman Frando yang ternyata gemar main ketoprak, lanjut Frando, pak Deddy, mbak Melani , mas Bayu. Saya amati semua sudah punya teman. Teman Frando berinteraksi baik dengan ayah sulung- bungsu dan Frando, pak Dedy dengan mbak Melani. Mas Bayu punya teman pada sisi kanannya yang nonton sendiri, saya lihat cukup akrab, pertunjukan belum mulai sudah bertukar kartu nama. Yakin semua nyaman, saya mencermati pertunjukan dan membuat foto tenang-tenang.

Pertunjukan dimulai sekitar pk 21, setelah tarian pembuka dimulai dengan jajaran Hastina. Serial Bhratayudha ini melanjutkan kisah sebelumnya , Bisma Gugur. Terkisah diperlukan penunjukan senapati baru, setelah Bisma gugur. Resi Durna bersedia menjadi senapati dengan menunjuk dua pengapit yaitu Prabu Gardapati dari Giripura dan prabu Wresaya dari Kasapta, murid-murid Begawan Durna. Mendengar di fihak Kurawa menempatkan Durna sebagai Senapati, difihak Pandawa menunjuk Drestajumena menjadi Senapati. Drestajumena adalah putera Pancala, adik kandung Wara Subadra. Arjuna dan Bima tidak bersedia ditunjuk Kresna menjadi senapati, karena tidak ingin melawan senapati Hastina, ke duanya juga murid resi Durna. Dalam menghadapi taktik Durna dengan Cakhrabuya, Drestajumena menggunakan Gelar Garuda Nglayang, Sayap kanan dan kiri Harjuna dan Bima, dengan pesan tak satupun dari anggota “badan” Garuda, boleh meningalkan formasi/ gelar tanpa ijin senapati. Mengenali kekuatan Pandawa pada ke dua sayap, pengapit senapati Hastina mendapat tugas untuk memancing Harjuna dan Bima meninggalkan gelar Garuda nglayang. Harjuna dan Bima terpancing meningalkan formasi, tercerita pasukan Pandawa porak poranda. Kresna menjumpai Senapati Pandawa, minta ijin meninggalkan gelar, mencari Bima. Sebelum meninggalkan gelar, Kresna memberitahu Gatutkaca, yang bisa memecah barisan Kurawa, hanya Abimanyu.


Terbanglah gatutkaca menuju keraton Wiratha. di Keraton Wiratha, Abimanyu yang kecewa karena tak dibawa serta dalam perang Baratayudha, sedang menunggui isterinya, Dewi Utari yang tengah mengandung. Ketidak ikut sertaan Abimanyu merupakan amanat Prabu Kresna, namun jiwa ksatria Abimanyu tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya harus berada di Keraton sementari ribuan prajurit lain mempertaruhkan hidupnya diKurusetra.

Kehadiran Gatutkaca di Keraton Wiratha guna menyampaikan titah Sri Kresna untuk memanggil Abimanyu agar bersama Gatutkaca menggantikan posisi Arjuna dan Werkudara yang meninggalkan posnya untuk menerima tantangan perang Prabu Gardapati dan Prabu Wresaya, merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu Abimanyu untuk bisa ikut bertempur di Kuruksetra. Ke dua istri abimanyu, Dewi Utari dan Dewi Siti Sundari tidak mampu mencegah kepergian Abimanyu. Abimanyu gugur di pertempuran.

Abimanyu berperang dengan mengendarai kereta dengan dua kuda. Ha, ini yang saya tunggu, “kuda-kudaan”. Tadinya saya agak kecewa, karena pada penampilan awal, pasukan Kurawa mengendarai kuda lumping. Kisah perang membuat pertunjukan disajikan dengan dinamis, gerak lambat hanya pada tarian di Keraton Wiratha. Ada adegan pasukan gugur ditumpuk-tumpuk, panah melayang-layang. Sulung saya agak khawatir saat ada adegan tumpukan prajurit yang diinjak, takut ada yang patah. Ke tiga punakawan tampil dengan guyonan yang menghibur, yang disampaikan tidak hanya saat pertengahan pertunjukan, tetapi disertakan pada beberapa adegan lain.

Sambil memfoto dan menonton saya mengamati penonton lain. Malam itu karcis sold out, banyak warga senior dengan rambut keperakan pada jajaran depan saya, remaja dan anak kecilpun ada. Aneka penggemar menyebabkan anekan hidangan. Mbak Melani dan mas Bayu, sudah menikmati nasi goreng dan mie goreng sebelum pertunjukan dimulai. Seorang ibu sisi kiri saya, membuka bekal, nasi lengkap dengan lauk. Persis di kiri saya, serombongan yang saat datangpun sudah dengan bungkusan besar makanan ringan, ditengah pertunjukan muncul pasokan (sepertinya) fast food lengkap dengan soft drink. Sudah makan dari rumah, dan teman lain juga sudah makan di rumah, saya memesan juice jambu, teh manis dan jeruk hangat untuk rombongan kami. Banyak yang memfoto, dan saya lihat ada yang mendokumentasikan pemeran tertentu. Ada suara anak kecil dari arah belakang saya : “Mama, jadi apa?” Ho, rupanya mengantar bundanya “main” wayang orang.

Upaya regenerasi disampaikan para punakawan, bahwa akan ada pertunjukan wayang orang yunior saat ulang tahun Bharata ke 39. Saya lupa, Juni atau Juli , direncanakan yang tertua seusia sekolah menengah atas. Mau menjadikan Brandon jadi Bagong dan mengundang Rimungkang! Semoga terlaksana.

Pertunjukan selesai sekitar pk 24. Mas Bayu sudah ngantuk berat. Kami berempat langsung ke padepokan pencak silat di taman Mini Indonesia Indah, karena ayah sulung-bungsu berperan sebagai saksi pernikahan keponakan pada pk 7 pagi, 27 Februari 2011. Bubar dengan agak heboh, karena Blacberry mbak Melani tercecer entah di mana. Saya tidak berhasil mengajak pak Berthold karena pak Berthold mengunjungi mertua, sedangkan pak Mimbar yang Jumat malam masih di Cepu, entah mengapa tidak berhasil bergabung.

Maret ini, 2011, tanggal 19 jatuh hari sabtu juga, ulang tahun ayah saya ke 89.

Nonton lagi, ngga ya?

Friday, December 31, 2010

Wayang mbelingnya Nury: Wangsa Bharata






Menanti pergantian tahun sambil nonton wayang orang ke , membuat saya ingin mengacak-acak sedikit dongeng versi pakemnya, atau kerennya menganalisa. Wangsa di sini diartikan sebagai keturunan, kerennya dinasti mungkin. He , he… Kisah di mulai saat Dewi Durgandini, alias Roro Amis saat masih menyandang sakit, keringatnya berbau amis, bertemu dan disembuhkan raden Palasara. Menepati sumpahnya, Dewi Durgandini menjadi istri penyembuhnya , yaitu Raden Palasara, dan hasil sumpah menurunkan Abiyasa. Dewi Durgandini juga ber puta empat orang lagi , yang lahir dari “penyakitnya” yang dimakan binatang air. Gampang ya, punya anak. Enaknya Dewi Durgandini, Abiyasa diserahkan ke ayahndanya, yang ingin pulang ke Sapta Arga, sedangkan yang empat lagi di serahkan kakandanya, di besarkan di Wiratha, kerajaan ayahnda Dewi Durgandini. Dewi Durgandini sendiri tetap bertapa dipinggir samudra sambil bekerja sebagai tukang satang (penyeberang menggunakan perahu).

Suasana mulai rusak saat Prabu Sentanu dari kerjaan Hastina yang sedang mencari permaisuri berjumpa dengan Dewi Durgandini, mulailah sumpah dan sumpah di adu. Prabu Sentanu mencari permaisuri, sesungguhnya hanya ingin mencarikan ibu bagi putra semata wayangnya dengan Btari Hangga (?). Pangeran Dewabrata dipastikan Prabu Sentanu untuk menggantikan menjadi raja Hastina, dengan sumpah. Prabu Sentanu yang terpesona oleh kecantikan Dewi Durgandini sontak melamar Dewi Durgandini, dan memaksakan kehendaknya meski Dewi Durgandini menyebutkan, sudah menjadi istri Palasara. Dewi Durgandini mengajukan syarat, saya berfikir, apa ini setengah menolak ya, atau biar kesannya sukar diraih, lha syaratnya bila jadi permaisuri Hastina, bila mempunyai keturunan laki-laki, harus jadi raja Hastina. He he, serunya Dewabrata rela menyerahkan tahtanya dan karena Dewi Durgandini ragu, takut kelak keturunan Dewabrata akan mengusik tahta, Dewabrata bersumpah tidak akan menikah. Seperti layaknya sumpah (dilingkungan pewayangan), diucapkan dengan minta kesaksian para dewa dan seisi bumi.


Memperpendek kisah, lahir dua putra laki-laki Prabu Sentanu dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Citrawirya, dan salah satunya menjadi raja Hastina. Cerita lanjut, prabu Sentanu sudah tidak muncul di panggung. Dewabrata memang kakak yang baik, sudah jadi resi, mencarikan istri kedua adiknya, berhasil memboyong tiga putri, dua Dewi Ambika dan Dewi Ambalika untuk ke dua asiknya, yang satu, Dewi Amba, maunya ngikut Dewabrata. Dewabrata menjelaskan sumpahnya, namun Dewi Amba nekat, akhirnya Dewi Amba tak sengaja terbunuh oleh Dewabrata, biar seru, tampah satu sumpah lagi, sebelum meninggal Dewi Amba bersumpah, kelak Bhratayudha, akan menjemput sang Dewabrata. Sumpahnya sudah tiga ya.

Pada Dewa (ternyata) kebingungan dengan segenap sumpah, salah seorang dewa turun ke bumi , menjelma menjadi Gandarwaraja, mengamuk di Hastina, dan menewaskan Citragada dan Citrawirya. Btara Citra(?) menyampaikan kepada Dewabrata, ke dua Citra ditumpas karena yang berhak atas penerus wangsa Bhrata ya Dewabrata, mungkin berdasarkan urutan file sumpah di kantor para dewa. Dewabrata menjelaskan sumpahnya kepada utusan petinggi dewa, sang dewa utusan bingung, juklaknya (mungkin) ngga sampai bagaimana mengeliminir sumpah tidak akan menikahnya Dewabrata, sang dewa cepat-cepat pulang ke kahyangan (sebelum malu ngga bisa mengatasi masalah). Wangsa Bhrata terancam punah, Dewi Durgandini sedih, cita-citanya nampaknya tak terlaksana, namun Dewabrata memberi solusi. Dewi Durgandini diingatkan masih punya putra lelaki, Abiyasa. Nah, terkisah Abiyasa menjadi suami pengganti untuk dua istri saudara lain ayahnya, dan dari masing-masing putri lahir Destarastra dan Pandudewanata. Lha, ini sesungguhnya kan wangsa Bharata naturalisasi ya, kan ayah Abiyasa, Palasara, bukan wangsa Bharata. Dewi Durgandini.tercapai cita-citanya, putranya jadi raja Hastina, namun perebutan tahta justru terjadi antata keturunan ke dua cucu Dewi Durgandini. Kalau para dewa tidak jail menewaskan Citragada dan Citrawirya, keturunan Bharata tidak perlu naturalisasi dan tidak ada perang antar keturunan wangsa Bharata naturalisasi.

Nah, ternyata Bharatayudha, itu rekayasa para dewa ya, dan proyek naturalisasi rupanya sudah lama ada.

Jangan dipikir serius , ini wayang mbelingnya Nury. Mau yang bener, silahkan nonton di Gedung kesenian Wayang Orang Bharata, jalan Kalilio Senen-jakarta Pusat. Gampang pesen ticketnya, bisa sms Gampang pesen ticketnya, bisa sms Pak Yunus, 08561211842ada FB nya juga.

Selamat tahun baru 2011.