Showing posts with label jokes. Show all posts
Showing posts with label jokes. Show all posts

Thursday, March 15, 2007

(Candi) Borobudur


(Candi di Hotel) Borobudur


Pembicaraan antar teman membuat anak saya pulang sekolah minta wisata ke (candi) Borobudur. Saat itu anak saya masih bersekolah di taman kanak- kanak Nah, Sabtu malam Minggu saya ajak dia menginap di (hotel) Borobudur . Anak saya sudah pandai membaca, saya tunjukkan tulisan Borobudur didepan hotel. Dia senang, karena merasa sudah wisata ke Borobudur. Apalagi setelah saya tunjukkan miniatur candi Borobudur, yang cocok dengan gambar di post card .

Kecian deh lu…..Pokoknya everybody happy.

Jepang versi Cibodas

Kisah wisata berlanjut. Suatu saat dia pulang dengan keinginan yang lebih hebat: ke Jepang. Entah apa yang saya pikirkan saat itu, Minggu pagi saya ajak anak saya ke Cibodas. Kebetulan di sana berjumpa wisatwan Jepang. Beres, Olly sudah merasa ke Jepang. Saya buatkan Olly foto , yang saat itu sedang trend, foto keliling langsung jadi - Polaroid.

Saat ini Olly sedang menunggu wisuda sarjana kedokterannya (S Ked), sambil menunggu saya ajak mengikuti kegiatan seminar. Kegiatan yang kami ikuti 2 hari ini berlangsung di hotel Borobudur. Kami jadi bernostalgia.

Jakarta, 12 Maret 2007



Foto polaroid, lengkap dengan tusukan

paku, karena pernah terpasang lama di dinding.

Thursday, March 8, 2007

Seputar Rumah Sakit (lanjutan)

Hitam putih atau berwarna bu dokter?


Ini pas foto dr Cipto Mangunkusumo lho!! Asli.......


Foto rontgen menjadi salah satu andalan kami, spesialis rehabilitasi medik untuk menentukan program. Dalam percakapan sehari-hari, foto rontgen atau foto sinar tembus disingkat dengan ’foto’ saja. Nah, disinilah kisahnya. Saat awal-awal saya praktek, seorang ibu usialimapuluhtahunan datang dengan sakit pada lutut. Setelah menanyakan riwayat perjalanan penyakitnya, yang lazim kita sebut anamnesa, dan pemeriksaan lutunya, saya tanyakan ”Bu, sudah di foto?”.( tentu yang saya maksud foto rontgen lutut). Si ibu menjawab :’ sudah”. Kemudian saya menjelaskan, ibu , hari ini saya berikan program sementara, ya Bu besok mohon singgah lagi, membawa fotonya, sehingga program bisa saya sesuaikan ”. Datanglah si ibu keesokan harinya, dan menyodorkan 2 foto, ”dokter mau hitam putih atau berwarna” ? Bingunglah saya ????

Eh, belum jera juga, beberapa waktu kemudian, istilah foto tetap saya gunakan untuk foto rontgen. . beliaunya, pasien baru saat itu,juga saya minta membawa foto esoknya. Kali ini kesalahan lebih cepat terdeteksi. Sampai di pintu kettika akan meninggalkan kamar praktek saya, beliau membalik ” Dok, mau ukuran berapa?” Nah, lho................................

Jakarta, 14 februari 2007


"Foto lama"

Kisah yang lain, di ceriterakan oleh dr Rien, seorang radiolog. Seorang pasien diminta dokternya melakukan rotngen ulang. Pada pengantarnya ditulis : Foto lama terlampir. Petugas penerimaan di loket, setelah membaca permintaan dokter, menanyakan : Bawa foto lama , pak ? Si bapak, dengan segera membuka dompet, mengeluarkan foto, kemudian menyerahkan foto, : Ada, tetapi belum terlalu lama......

Petugas rontgen bingung, yang di harapkan foto rontgen dada yang lalu, yang diserahkan pasfoto, memakai peci.......

Pak, mohon maaf. Rontgen yang lama diperlukan untuk melihat perkembangan penyakit bapak.......,


Jakarta, 8 Maret 2007

Wednesday, March 7, 2007

SEPUTAR RUMAH SAKIT

Banyak kisah di rumah sakit yang bisa menjadi hiburan di tengah kelelahan pekerjaan. kisah ini ada yang saya alami sendiri, ataupun kisah dari teman. Mau menambahkan? Silahkan.


LORONG SESAT


Yang sering datang ke RSCM memang lorong nya cukup “bersahabat”. Tetapi bagi pasien dan keluarga , bisa menjadi lorong yang menyesatkan. Sangat sering kalau berjalan di lorong kita akan di tanya arah oleh para pendatang. Nah, maksud hati menolong, saya pernah ”di marahi”.

Berjumpa di sekitar Patologi Klinik saat ini,sekelompok bapak menanyakan arah ke poli Penyakit Dalam. Karena kebetulan saya akan ke departemen Rehabilitasi Medik, saya ajak serta saja. Diantara IGD dan perempatan Radiologi saya di ” marahi” . Dok, bukan ini jalannya. Saya berhenti dan sambil setengah tertawa saya jawab: Pak, (saat itu) sayasudah bekerja disini hampir 10 tahun, percaya deh”. Para bapak mengikuti sambil setengah bersungut. Setelah di depan radioplogi , dekat lorong menuju poliklinik, tersenyumlah para beliau: Eh, iya dok, betuuuuul. Terima kasih.

He he

Jakarta, 5 Maret 2007

“Bezoek”

Tulisan ini terdapat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Rupanya meskipun sudah lama ditinggal para “LONDO”, sepotong bahasanya tetap melekat . Pendek dan komunikatif: "Bezoek"

Coba diberi bahasa resmi:

PINTU MASUK UNTUK MENGUNJUNGI PASIEN MELALUI BASEMENT.

Wah , bikin spanduk dong. Boros papan, cat, dan pendukung lain.

Lha , basement itu bahasa Inggris ya?

Foto ini diambil dari mobil oleh anak saya , yang heran dengan tulisan “BEZOEK”.

Anak saya sempat mau mencari bahasa apa itu ”BEZOEK”

Dia kan lahir tahun 1989, "genuine" lahir era Indonesia merdeka. Tak tau dia......

Jakarta, 7 Maret 2005


............BREBES

Meskipun gambar yang saya sajikan bawang merah, tetapi kisahnya jauh dari bawang. kisah ini saya dapat dari dr Rien, spesialis RS Pelni. Yang sering berobat ke rumah sakit pasti bisa membayangkan ribetnya megurus Askes, dengan berlembar foto copyan yang harus di buat. alkisah , seorang bapak menyerahkan foto copy surat-surat yang diperlukan kepada petugas Askes. Petugas Askes menanyakan surat- surat yang asli. Kira-kira begini pertanyaannya : Aslinya mana, Pak? dengan ramah.
Jawaban si Bapak : Brebes..................Bingunglah petugas Askes kita.
He he, rupanya si bapak mengira petugas yang ramah itu menanyakan beliau berasal dari mana.


Sunday, March 4, 2007

TIDAK PUSING ?

Inginnya berkomunikasi dengan anak dengan baik. Anak saya yang pertama sudah berusia 4 tahun kala saya hamil ke dua. Saya belikan buku mengapa begini, mengapa begitu. Buku yang pertama saya berikan mengenai anak dalam rahim. Yang dicermati gambar bayi dalam rahimdengan posisi kepala di bawah. Anak saya bernama Olly.

Olly bertanya :”Adik di perut mama, kepalanya di bawah gini”.

Saya jawab : "Iya."

Olly: "Engga pusing?"

Nah lho, bingunglah saya bagaimana menjawabnya.

"SEBELAS JARI" = TERAPI CARPAL TUNNEL SYNDROME?

Pagi ini dalam perjalanan ke Bandung anak saya mengeluh tangannya kesemutan . anak saya memang beberapa hari ini bekerja banyak dengan komputer. masing-masing kami (suami, saya , dan dua anak ) mempunyai lap-top, jadi selalu ”kembali ke Lap-top”. Bahkan sebelum era Tukul Arwana.

Kami sedang mengawali membuat blog, terbayang donk, antusias kami masing-masing memelihara blog kami, surfing, menyiapkan naskah. Kelebihan anak saya, si none ini menggunakan sepuluh jari. Cepat sih, dibandingkan saya yang sebelas jari, sambil mikir pula Tapi bonusnya ” kesemutan”, yang merupakan salah satu gejala Carpal Tunnel Syndrome . Saya tidak, saya pakai ”sebelas jari”, jadi tidak memberikan gerakan ritmis berulang yang mencederai pergelangan .

He he, barangkali , : mengetik sebelas jari”. Bisa = terapi carpal tunnel syndrome?

Diteliti yuk !!!

Yang masih bingung apa itu Carpal Tunnel Syndrome, silakan kunjungi http://rehab-med.blogspot.com . Ada dongeng tentang Carpal Tunnel Syndrome.



APALAH ARTI SEBUAH NAMA (?)


Shakespeare menjadi rujukan bila ada masalah dengan nama. Tapi asyiiik juga lho, mengamati berbagai peristiwa karena nama

Tong Setan

Sejak masa dulu, saat perpeloncoan mahasiswa, entah apapun namanya sekarang, nama kita bisa berganti. Seorang teman mandapat nama “Tong Setan “, dan sepanjang perjalanan perkuliahan nama itu tetap disandangnya . Beberapa hari setelah wisuda, Tong Setan berkunjung ke rumah, dan berjumpa dengan ibu saya . kebetulan saya sedang pergi, Tong tercinta meninipkan pesan : Sampaikan saja , tante. Saya, Tong Setan, nah, kebayang engga gelinya ibu saya, dokter baru, memperkenalkan diri sebagai Tong Setan! Ibu saya tak bisa menyahut, hanya segera masuk rumah , dan tertawa geli. Yang hebatnya lagi, saya juga lupa nama aslinya. Saat saya sudah menikah dan menpunyai 2 anak, kami berjumpa di bandara Ngurah Rai Denpasar. Saat akan memperkenalkan dengan suami saya , terpaksa saya menanyakan dulu namanya. He he. Kalau tak salah sekarang ”Tong Setan ” sudah menjadi spesialis andrologi di Surabaya.

Apa kabar Tong Setan ?

Basiyo

Nah, ini juga hebat. Saat saya kuliah, nama komedian radio terkenal ”Basiyo”. Satu senior saya menyandang nama tersebut, dan lebih populer dibandingkan nama asli. Sekarang beliau seorang rektor universitas negri favorit di Semarang. Di antara kami , beliau tetap ”Basiyo ” tercinta. He he.




Gori

Yang satu lagi, nama indahnya ”Gori”, saya lupa bagaimana kisahnya. Beliau sekarang spesialis kebidanan dan kandungan di rs pemerintah di Jakarta. Nah, bahkan istrinya, yang merupakan yunor saya, hingga saat ini, kabarnya , dalam percakapan sehari-hari, menyebut suaminya sebagi ” mas Gori”. (Gori= nangka muda. Nangka muda, memang enak kok, apalagi kalau jadi gudeg ya).

Jakarta, 28 januari 2007


ABUD


Nama rupanya tidak selalu mencermiinkan ras atau suku. Besan ipar saya , bernama pak Rahmat, Jawa ? bukan, Batak . Nah, berikut ini dongeng nama teman anak saya. Bertahun nama Abud beredar di rumah bersama dengan nama-nama lain. Anak saya memang selalu menceriterakan setiap aktivitasnya dan dengan siapa beraktivitas, hingga seolah saya sudah mengenal akrab semua anak saya. Khusus untuk Abud, setiap anak saya berceritera dan menyebut nama Abud, terbayang lah sosok Arab muda. Nah, alkisah , banjir yang mengguyur Jakarta 3 hari menyebabkan seluruh aktivitas di rumah. Saat anak saya membuka situs friendster-nya , lho, kok yang namanya Abud fotonya jauh dari Arab? Eh, saat saya merapikan meja, terbaca katu nama : Aditya Budi. He he, disitulah A (ditya) Bud (i) rupanya berasal! Apa kabar (wan) Abud.

Selamat ya untuk Aditya Budi, S.Si, S.Kom!
Jakarta, 4 Februari 2007



Tila alias Pahing

Anak saya penyayang binatang, ini agaknya dikenali para kucing liar di sekitar rumah. Mereka sering “menyasarkan “ diri ke rumah, dan dengan senang hati anak saya memelihara. Yang terbaru hadir hari minggu 4 februari 2007, saat banjir melanda Jakarta. Ditemukan pembantu saya,seekor anak kucing, kehujanan, kedinginan, di bawa masuk kerumah. Mulailah kesibukan mencari nama. Pertama kali diberi nama Yudith, mengikuti nama penyiar radio swasta (?). Akhirnya , senin 5 februari 2007 di putusan namanya ”Tequila”, di panggilnya ”Tila”.
Dengan segera nama itu di kumandangkan. Nah, pembantu kami yang berusia 16 tahun protes. ”kucing kok namanya keren amat. Saya saja namanya Atun ” He he. Mau tahu nama yang diusulkan ? Si Pahing. Alasannya.” Diketemukannya kan minggu pahing , bu. Ya, si Pahing saja” Atun rupanya berkeberatan kalau namanya kalah keren.


Jakarta, 5 Februari 2007

Saturday, February 24, 2007

Ibu Adenium, Ibu Cakung


Setelah lama tidak praktek, mulai akhir 2006, saya kembali praktek di rumah. Duluuuu ……..saya praktek umum, sekarang saya mengkhususkan menggunalan laser tenaga rendah untuk terapi nyeri dan beberapa hal lain.. Yang membantu saya, si Atun. Yang pernah mengunjungi blog saya, pernah membaca kisah si Atun. Pemberian terapi laser memerlukan beberapa kali kunjyngan, dan tiap orang bisa berbeda alat laser yang saya gunakan . si Atun sudah mahir menyiapkan alat, dan sudah hafal ruang yang diperlukan. Tiap sore dia bertanya, bu pasiennya siapa ? Dengan saya sebut nama, Atun tahu, alat dan ruang mana yang harus dipersiapkan. Nah, nama saya sebutkan sesuai dengan “kemauan” Atun Bila saya sebut nama sebenarnya, malah sulit untuk Atun. Maka muncullah nama ibu Adenium, karena beliau memberi saya 4 pot Adenium saat tahun baru, ibu Cakung, karena rumahnya di Cakung, dan kalau menelfon untuk membuat perjanjian, Atun yang sering menerima. Nah, bila Atun bertanya : “ pasiennya nanti siapa, bu?” Tinggal saya sebut “ bu Adenium “ dan bu Cakung”..dua ruang disiapkan. Dan bila saya menyampaikan bu Cakung tak jadi datang, dia tak akan keliru untuk membatalkan ruang yang mana. Keren ya, si Atun ……. Jangan- jangan nanti ada nama bapak Depok, ibu Rawabelong. . Eh iya, sudah ada bapak Jepara!

(Terima kasih pak, sudah jauh-jauh dari Jepara mengunjungi praktek saya, semoga dapat membantu bapak)

Jakarta, 15 Februari 2007

Wednesday, February 14, 2007

Rawon rasa soto


Masih ingat si Atun ? Nah, dalam memasak pun Atun sangat inovatif. Suatu senja, sepulang kami sekeluarga beraktivitas hari Sabtu, Atun telah menyediakan hidangan dalam panci sakura yang menjaga tetap hangat. Kebetulan Atun sedang pergi, saya bertanya kepada Anti masakan apa ini, Anti menjawab, "Lupa Bu namanya, yang masak mbak Atun". Waktu saya buka, ”penampakannya” seperti rawon, saya tanya kembali,"Rawon ya?". "O, iya, rawon" , jawab Anti.


Nah, sudah lama kami tidak memasak rawon, maka dengan antusias saya dan anak mengambil mangkuk. Saat di sendok, lho, kok ayam, (rawon biasanya kan daging sapi), dirasakan, lho kok soto ? maka kami berdua menyimpulkan ini soto , dan sungguh , rasanya seperti soto di jalan radio dalam.

Setelah jumpa Atun saya memuji, "wah sotomu enak Atun, belajar sama siapa? .Atun malah kaget, "Itu rawon Bu. Cuma karena tukang daging tadi sudah tak ada, saya ganti ayam."

Nah, apa dong namanya masakan si Atun?

Mumi dan balsam


Barangkali judul besar kisah-kisah saya sebaiknya serial si Atun. Ini tentang Atun dan balsam. Anak saya yang perempuan akhir-akhir ini menggemari dipijat dengan menggunakan balsam merek tertentu yang hangat. Setelah beberapa kali memijat menggunakan balsam , Atun bertanya , "Mbak, mumi itu digosok dengan balsam seperti ini ya ?" He he, anak saya geli. Atun memang gemar membaca. Jangan, jangan dia mengkhayalkan me-mumi-kan anak saya.


Edwin belajar mengaji

Edwin, anak saya yang ke dua , tumbuh dengan keingin tahuan yang besar. Saat Edwin balita, saya carikan guru mengaji yang saya pilih karena menurut saya dapat mengimbangi keingintahuan anak saya.

Saat awal-awal les, saya selalu berusaha mendampingi dengan duduk agak jauh dari guru dan murid, untuk mengamati jalannya proses belajar mengajar secara tersamar. Bu guru mengajar dengan banyak dongeng sehingga Edwin tidak bosan.

Suatu hari ibu guru menerangkan tentang perbuatan yang baik dan yang buruk. Pada ujung keterangan , ibu guru mengatakan : “ Ada seorang malaikat yang mencatat perbuatan kita Edwin, baik atau buruk, 24 jam “.

Reaksi Edwin : “ Engga punya karyawan ? “

He he, emangnya malaikatnya kaya ibunya , yang dokter dan punya banyak perawat dan petugas tata usaha...