Showing posts with label sampah. Show all posts
Showing posts with label sampah. Show all posts

Saturday, May 29, 2010

Pemulung . Di benci dan di rindu.


Petugas kebersihan digawe saya penuh waktu mengeluh: “Sekarang pemulung ngga boleh masuk, dok. Jadi sampah banyak. Dulu kurangan, karena kalau siang sebagian di ambil pemulung”.

Namun, terpaksa ada rambu menolak, karena terkadang yang dipulung yang belum direlakan pemiliknya. Termasuk di rumah ayah saya, di tengah kota di Jakarta Pusat ,burung dara sekandang dan treadmill pernah dipulung, subuh-subuh.

(Foto diambil di wilayah perumahan di Jakarta Barat)

Wednesday, March 10, 2010

Puti-putih bukan melati



Nyaris setiap hari menyusuri kali yang memisahkan Pasar Rumput dengan jalan Latuharhari, sungainya saya susuri sejak keluar Pejompongan . (terpaksa) menjadi perhatian, mulai dari halte angkutan air yang hanya dua , digagas saat akhir masa Gubernur Sutiyoso.
Kini halte yang depan hotel Shangrila sering menjadi tempat “mancing”. Mancing ikan beneran hingga pemulung memancing plastik lewat. Sedangkan halte yang satunya Halte Halimun, kini ada pos warna merah , disponsori Coca –Cola, bernuansa merah , ada tulisan besar Jakarta Clean. Ada bak besar permanen, seperti yang terpasang pada mobil sampah tetapi ada penghubungnya ke tong biru di bawahnya . Perahu karet terkadang tersandar, sepertinya secara berkala sungai dibersihkan. Pernah saya dapati mobil sampah DKI , dicat dengan karakter yang sama dengan halte Halimun.
Pada foto, yang saya ambil saat melintas dijembatan, Nampak bangunan merah pada sisi kiri, halte Halimun. Yang putih –putih di sungai, sampah plastik.
Coca–cola pada penelusuran saya memang sering berperan. Bagaimana kita, agar tidak ada 'putih -putih bukan melati' di sungai?

Berkah dan Musibah


Foto ini gambaran peristiwa sungai yang merupakan bagian kanal banjir Barat, yang saya lewati nyaris tiap hari. Kali ini saya ambilkan sebelum jembatan layang Karet. Ini merupakan lokasi pemancingan ikan dan sampah setelah halte dekat hotel Shangrilla. Airnya mengalir dari arah Manggarai ke Karet. Sampah plastik yang lolos dari halte Halimun, dan halte dekat hotel Shangrila , di tangguk di “jembatan” ini Semoga tampak jelas, lokasi pemancingan ini besi melintang di atas sungai , menurut asisten wara- wiri, besi ini pelindung kabel yang melintas sungai . Setiap pagi saya lewat, banyak juga onggokan sampah plastik. Terkadang sudah dalam karung- karung, artinya jumlahnya banyak juga. Pernah saya jumpai , ada mobil bak terbuka , “menjemput” sampah palstik yang sudah rapi dalam karung.

Sampah plastik di sungai yang menurut saya musibah, ternyata berkah untuk beberapa orang.

Berkah dan musibah merupakan dua sisi mata uang.

Sunday, October 26, 2008

Lihat kebunku…..


Mendapati halaman rumah saya lebih cocok untuk tanaman hijau bukan bunga, saya menanaminya dengan pohonan berkhasiat. Plus pohon kersen yang saya buru dalam jangka tahunan, jadilah kebun saya menjadi “destination” para burung. Pagi hari saya mendengar kicauannya. Sekarang saya bahkan (mungkin) mampu membuat kompos sendiri, versi saya, dengan pelajaran jarak jauh mbak Ritapunto.

Terinspirasi artikel di Wikimu, Ibu Retty (Hari bumi .Yuk membuat lubang biopori), dan sesuai pedoman tulisan mbak Ritapunto (Solusi Zero waste” di rumah saat lebaran) , saya meminta tukang membuat lubang. Gampang? Tidak juga. Saya kan bukan pelaksana pembuat lubang, tukang saya mendengar “perintah “ membuat lubang “sampah”, belum selesai saya terangkan, langsung , burr ke kebun samping rumah. Waduh, saya di “rumah” praktek, masih ada “tamu”, tamu selesai, saya segera supervisi. Yak, tul, sesuai dugaan, sudah disiapkan area nyaris 2 meter persegi. Saat saya bilang “Kegedean , pak” ,bingunglah pak Ratim, tambah bingung lagi saat saya mengarahkan : “ Moncongnya 10 cm, dalamnya 1 meter”. Oke bu, laksanakan.

Selesai, belum, esoknya , sepulang kerja, dalamnya sudah oke 1 meter, moncongnya 40 cm. He, he, dasar Nury pemaksa, saya minta di ulangi. Akhirnya , meski tak 10 cm, mendekati 20 cm, terciptalah 4 lubang. Persiapan disempurnakan dengan membeli sarung tangan , 2 pasang ,( satu untuk saya, satu untuk asisten), untuk memisahkan sampah, bila terlanjur tergabung. Pelajaran memakai sarung tangan juga memerlukan waktu. Saya intip dari jendela dapur saya, asisten saya ketuel- ketuel, sarung tangan nggak masuk –masuk ketangannya. H, he, saya keluar saya ajarai, beres.

Lubang mulai efektif digunakan seminggu sebelum lebaran, sampai saat ini satu lubangpun belum penuh. Pemulung berterimakash pada asisten saya, karena seminggu sekali bisa datang dan langsung menjemput kaleng, botol, stiryfoam yang bersih dan tergolongkan.

Saya sertakan foto biopori saya, sudah disupervisi mbak Ritapunto, komentarnya: “Perfect bunda” Ho ho, ini hasil belajar dari Wikimu. Tak perlu bor, wong tukang saya membuatnya dengan pralon sisa membetulkan pipa air

Mau mencoba?

Saturday, October 25, 2008

Lihat kebunku

Lubang biopori versi Nury, dibuat tanpa bor, di kuplek pakai pralon

Sudah sebulan, belum penuh, tapi belum juga jadi. menurut mbak Rita , diberi EM4 agar cepat jadi kompos, plus di aduk seminggu sekali.

Daun ginseng, seminggu 2 kali dipeting, di ca saja, seger.

Daun keji beling, konon untuk kencing batu

Daun kenikir, sedang disiram asisten yang ikut sejak anakpun kami belum punya

Foto pelajaran memakai sarung tangan ada di posting 21 Oktober 2008

Tuesday, October 21, 2008

Lubahg sampahku

Ini foto salah satu lubang. Pertama kali minta dibuatkan, eh, nyaris seperti lubang sampah pada umumnta. Disiapkan lebih dari 1 x 1 meter. Wah, segera saya jelaskan tujuannya, baru tukang saya mengeti, dan membuat lubang (seperti) ini
Saya siapkan sarung tangan, untuk memisahkan sampah. He he, saya intip, pengasuh sulung saya kebingungan .

Saya hampiri, saya ajarkan. Ha, berhasil !!

Wednesday, June 20, 2007

Taman Karinda - by request


Ada permintaan alamat taman Karinda, bulan lalu. Ibu Lau ingin mensosialisasikan di sekitarnya. Terima kasih telah membaca blog saya ibu, dan senang sekali kalau bisa membantu. Saya ulang kembali tentang Kebun Karinda, dengan gambar lain dari brosur.


Berikut kutipan blog saya bulan Februari

Sabtu yang lalu, 11 Februari 2007 saya menghadiri pertemuan ilmiah. Pada acara makan siang, yang juga merupakan ajang menampilkan poster, saya ber”edar” dekat poster yang saya sertakan. Seorang ibu paruh baya yang ramah menyapa, ternyata beliau dra Sri Murniati Djamaludin. Beliau istri bapak Djamaludin Suryohadikusumo, mantan mentri . Saya mendapat brosur dari beliau, tentang Kebun Karinda, yang mempunyai aktivitas penyuluhan dan pelatihan pembuatan kompos, disamping pembibitan tanaman pelindung,tanaman hias , dan tanaman obat , sera aktivitas lain. Dalam brosur dicantumkan manfaat pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Ternyata bila kita mampu mengelola sampah rumah tangga, maka dapat mengurangi 30 – 40 % volume sampah . Bila setiap rumah tangga melakukan, terbayang kurangnya pencemaran di daratn perairan, banjir dan adanya peyakit. Kompos yang dihasilkan akan menjadi barang bernilai ekonomis, memberi lapangan kerja , dan tambahan penghasilan . Nah , ternyata menjadi ”pahlawan”, tak perlu ke Irak, dari rumah, sambil nonton sinetron, kita menyelamatkan bumi. Terima kasih ibu, untuk wawasan yang ibu berikan. Bagi para pengunjung blog ini, bila berminat, dapat saya berikan alamat beliau. Saya kira beliau tidak keberatan, betul bu? (saya sertakan gambar yang saya scan dari bosur).

Ah, hampir lupa, sesungguhnya ada video pelatihan. Pelatihan juga diselenggarakan dengan perjanjian atau pengaturan waktu. Mari, selamatkan bumi, dari dapur sendiri!!

Jakarta, 17 Februari 2007

Alamatnya:

Djamaludin Suryohadikusumo dan sri Murniati Djamaludin

Bumi karang Indah blok C-2 n0 28

Lebak Bulus- Jakarta Selatan

e-mail : djamaludin@yahoo.com
telp 021-75909167
fax 021- 75909168
hp. 08158014375