Showing posts with label surabaya. Show all posts
Showing posts with label surabaya. Show all posts

Sunday, March 21, 2010

Rujak (Mercy) Cingur Peneleh- Surabaya





Berpeluang ke Surabaya akhir minggu ke tiga bulan Maret ini , saya upayakan mencari rujak cingur Madura. Penasaran saja , karena Juli 2009, saat menelusuri jembatan Suromadu, pada ujung jembatan di pulau Madura, ada gubug- gubuk betuliskan rujak cingur Madura. Menurut ibunya Yusuf , (Yusuf pasien di rumah praktek saya) yang berasal dari Bangkalan, pada rujak Madura , ditambahkan ulekan kacang tanah.

Perburuan di mulai sejak seminggu sebelum saya ke Surabaya . Lewat Black Berry Messengger (BBM) , dari seorang teman dokter Surabaya, saya mendapatkan alamat rujak cingur Peneleh, yang pada pesannya dituliskan merupakan rujak cingur termahal, Rp 50.000 per porsi . He he, penasaran tentang harga rujakcingur, saya minta sulung membelikan rujak cingur pak Hadi dijalan Wahid Hasyim , Jakarta . Rujak cingur pak Hadi ini rp 18.000 per porsinya. Teman lain di Surabaya mengatakan, rujak cingur Paneleh mendapat julukan rujak Mercy, karena pembelinya datang dengan kendaraan mewah. Sebelum sampai di Surabaya , info bertambah, harga nya turun, jadi Rp 35.000,- katanya porsinya diperkecil.

Sabtu siang, di antara 2 (dua ) workshop yang saya ikuti, saya mengganti lunch di hotel dengan rujak cingur Peneleh. Saya datang pk 12, diantar seorang dokter muda , lengkap dengan sang suami, karena sang suami juga penasaran dengan rujak yang harganya kok (bisa) turun. Kami bukan pengunjung pertama, menurut ibu pemilik sekaligus pengulek, sebelum kami beberapa dokter sudah datang. Wah, karena sebelumnya saya juga heboh bertanya melalui milis, para dokter peserta workshop yang lain penasaran juga.

Rujak cingur Peneleh buka mulai pk 11, nggak ada tulisan apa-apa, menempati satu dari tiga ruko berdempetan pada satu halaman. . Alamat tepatnya jalan Ahmad Jais no 40, tetapi lebih terkenal sebagai rujak cingur Peneleh . Kalau di tanya jalan Ahmad Jais , malah ngga ada yang tahu. Tempatnya kecil saja, hanya ada tiga detetan meja, sisi kiri dari luar, dua meja yang menempel dending dengan empat kursi , sisi kanan 2 meja , masing-masing dengan 2 kusi, sedangakn di tengah 2 meja panjang digandeng dengan enam kursi .



Saya lupa bertanya nama pemilik sekaligus peramu, menurut beliau, ini ya rujak cingur, ngga ada kaitannya dengan Madura. Kami pesan tiga porsi, langsung diulekkan dulu kacangnya , banyak lho. Suami yunior saya memesan yang matengan , ternyata berarti isinya (hanya) sayuran yang di rebus tahu dan tempe , tanpa buah-buahan. Rujak cingur selain dedaunan yang direbus, tahu dan tempa,juga diberi irisan bengkoang, mangga muda .




Ummm, memang mantep, tempenya tempe goreng yang bulat- bulat, cingurnya betul-betul menunjukkan kelasnya sebagai rujak cingur. Saya ngga tahu , apakah rujak Peneleh ini memang tanpa lontong, lha ngga pake lontong saja sudah kenyang, kalau ngga mau disebut kekenyangan.



Plus kriuk- kriuk krupuk putih berdiameter 10 sentimeter, isi empat tiap bungkusnya, sungguh mengobati rasa penasaran.
Pada dinding ada foto ibu pemilik dengan Wiliam Wongso, dan beberapa foto lain. Rupanya rujak cingur Peneleh ini sudah dikunjungi para pengamat kuliner kaliber nasional (atau internasional ya).






Teman yang lain memilih rujak cingur di Genteng, Rp 8000 per porsi. Saya belum sempat ke Genteng.


Monggo, pilih yang mana?

Surabaya memang (antara lain) jajanan khasnya rujak cingur…..

Friday, January 22, 2010

Semanggi Suroboyo…


Pertengahan Januari 2010, berperan sebagai penguji nasional , berarti “terkurung” tiga hari di salah satu departemen di RS dr Soetomo. Namun tidak berarti kuliner Surabaya tak bisa dinikmati. Bermula melihat tulisan di hotel tempat kami di inapkan, saya bertanya dan mencari pengantar untuk mendapatkan Semanggi Suroboyo.

Malam hari selesai menguji, diantar sejawat muda, kami ke Galaxy Plaza. Wuih, meski di plaza, Semanggi Suroboyo disajikan tetap pada pincuk. Sebelum menikmati, saya eker-eker dulu, ternyata kecambah menyertai daun semanggi. Bumbunya terasa petis yang tidak terlalu keras, dan memang ternyata dicampur gula merah, kacang dan ketela. Kacang tanah digoreng terlebih dahulu, sedangkan ketela direbus. Lalu, ketiga bahan tersebut ditumbuk menjadi satu. Sajian dilengkapi krupuk puli. Meminjam istilah pak Bondan, mak nyuus.

Penelusuran saya dengan google menyebutkan ,semanggi yang merupakan kelompok paku air (Salviniales) dari marga Marsilea) yang di Indonesia mudah ditemukan di pematang sawah atau tepi saluran irigasi. Morfologi tumbuhan marga ini khas, karena bentuk entalnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan.

Daun tumbuhan ini lah (biasanya M. crenata) yang dijadikan bahan makanan pecel semanggi, khas dari daerah Surabaya. Organ penyimpan spora (disebut sporokarp) M. drummondii juga dimanfaatkan oleh penduduk asli Australia (aborigin) sebagai bahan makanan. Semanggi M. crenata diketahui mengandung fitoestrogen (estrogen tumbuhan) yang berpotensi mencegah osteoporesis. Semanggi jenis ini pula , mengantar seorang sejawat menggapai ijasah doktoralnya.

Semanggi, mau?





Nasi Krawu Gresik

Hidangan makan siang hari ke dua, tersaji manis dalam kemasan. Pada kotaknya tertera nasi krawu gresik. Lauk nya terutama daging sapi yang mirip empal dikoyak- koyak. Daging yang terkoyak ini ternyata memang cirri khas. Daging empal yang direbus dan disantani dulu sebelum di goreng. Disertai poyah, yaitu parutan kelapa, terdapat dua macam poyah, coklat dan kuning. Disertai potongan babat diiris kecil, dan sambal terasi. Saya selamat dari menelan bulat –bulat sambel terasi, yang mirip bentuknya dengan babat. Seorang teman terlanjur memasukkan seluruh sambel terasi dalam satu suapan, woah –woah kepedasan !


Pecel, nasi udang bu Rudy

Masih ada hidangan lain, pecel, nasi udang bu Rudy, yang terkenal dengan sambelnya. Seorang teman di hari pertama sudah memesan sambelnya bu Rudy untuk oleh-oleh, pesanan istri, jelas dokter ganteng dari Semarang. Terdengar sejawat lain, segeralah pesanan oleh- oleh “item” nya bertambah





Surabaya lagi? Hayuuuk….

.

.

Friday, April 25, 2008

Zanggrandi- ice cream- berdiri sejak tahun 1930

(Mungkin) ini ice cream pertama pada kehidupan saya. Kunjungan ke Surabaya di awali dengan ice cream. pk 20.00, belum makan malam, "nekat" ke Zanggandi, takut tidak ada kesempatan lagi.

Secara naluri , inginnya pesan tutti fruti, yang selalu saya pesan saat balita. tapi saya memilih noodle ice cream. enak kok, terasa aslinya, bukan bahan "palsu"

Yang membuat saya "ingat", kursinya sama dengan saat saya balita, suaru "trade mark" yang berhasil dipertahankan.


Ternyata berdiri sejak tahun 1930! Weleh, pantesan , (mungkin) saat balita saya sering ya kesini, lihat kursinya rasanya kenal sekali