Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, October 18, 2011

Buah Bangkok- tak selalu manis dan besar





<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE


Kursus singkat di Bangkok, sempat berkenalan dengan expert IT tempat kursus diselenggarakan. Saat bertukar kartu nama, saya terkesan dengan kartu namanya, cantik bernuansa kuning, bergambarkan tiga perempuan dengan buah-buahan. Mark Sonnen tersenyum menjelaskan, ada pekerjaan lain yang ditekuni, bersangkutan dengan buah-buahan. Mark yang pernah ke Bali, menyebutkan, salak Bangkok, berbeda dengan salak Indonesia, salak Indonesia disebutnya sebagai more crispy. Penasaran, dengan waktu kunjung yang singkat, saya memburu buah. Jumat sebelum pulang, sekitar pk 10 saya diantar pak Toman Tobing yang sudah sering ke Bangkok menuju Siam Paragon, khusus menuju gourmet market and food halls.

Saya segera mencari salak, salak dikemas bagus, masih dengan tangkainya. Saya juga mendapatkan mangga yang seperti mangga golek bentuknya, tetapi kuning merata. Tergoda srikaya yang cantik, yang sebesar jambu Bangkok, kami pilih juga srikaya,. Buah-buah ini masik mengkal, jadi saya tidak kesulitan membawa dalam koper. Salaknya mungil,berisi satu (apa istilahnya, satu biji?), tidak tiga seperti salak Indonesia pada umumnya. Saat matang saya dapati memang tidak semanis salak Pondoh, lunak, banyak air dan tidak seputih salak Indonesia, saat dimakan dagingnya tak mudah lepas, melekat dibiji. Kalau mangganya, manis yang pas, di bandara Swarna Bhumi, dijual mangga yang sudah dipasangkan dengan ketan, bisa langsung disantap, seharga 150 bath.Saat srikaya matang, harumnya tidak sekuat srikaya Indonesia, dan dagingnya tak banyak air. Bisa dikatakan mengenyangkan, bukan menyegarkan.

Istirahat sejenak, kami membeli juice segar, saya memilih juice markisa botol kecil kira-kira 200 cc. Lengkap dengan bijinya, tanpa pemanis, rasanya asam. Segar, pengantar bergegas ke bandara, pulang ke Indonesia.

Buah-buahan Indonesia tak kalah menarik, tinggal kemasannya saja.

Sunday, May 29, 2011

Prambanan- Ramayana Ballet












<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Undangan mas Loyke mantu, 15 Mei 2011 sudah dikumandangkan sejak sekitar 7 bulan sebelumnya, sehingga saya berkesempatan mencari acara sampingan. Pernah terbaca pada status seorang senior, beliau nonton Ramayana di Prambanan, teringatlah masa kecil saya, samar-samar pernah diajak ibu almarhummah nonton “ketek”. Saya segera mencari pada Google, tanggal 14 Mei 2011, ada pertunjukan. Keinginan saya disambut yang punya rumah, dr Liliek SpOG dan nyonya, dr Yunisa, dan dari 48 kawan yang menghadiri mantunya mas Loyke, 14 orang menyertai saya nonton.

Pertunjukan berlangsung di pelataran candi Prambanan, pada panggung terbuka berbentuk U, dengan ketinggian 180 cm dari tanah, panjang 50 meter dengan lebar 16 meter. Saya ngga sempat menghitung penari, namun saat semua penari keluar diakhir pertunjukan, penuhlah panggung. Pada penelusuran, saya baca setidaknya 250 orang penari terlibat.

Saya menikmati pertunjukannya justru setelah di rumah, dari reaman kamera, karena saya terpesona candi Prambanan yang menjadi latar belakang. Saya kutak-kutik kamera digital mungil saya untuk mendapatkan panggung dengan candi Prambanan sebagai latar. Meski demikian, saya masih sempat mengikuti jalannya cerita kok. Teramati pemeran Rama, sepertinya (harus) atlit panahan, Rama dengan tepat mengarahkan panahnya pada kijang, sehingga bisa ditangkap kijang yang kemudian “berubah” menjadi Kalamarica. Panah terlepas dari busurnya dengan titis juga, saat adegan Sugriwa- Subali.

Ramayana sebagai pertunjukan kolosal digagas Ir Soekarno, presiden Republik Indonesia yang pertama, dan pertunjukan pertama berlangsung pada tahun tahun 1961. Cocok dengan ingatan saya, saya “merasa” menonton tahun 60an, saat ayah saya di Makasar, saya masih di Sekolah Dasar, bersama kakak, diajak ibu dengan teman-teman sekolahnya. Rupanya ibu saya nonton sambil reuni. Jadi pertunjukan ini sudah berlangsung sekitar 50 tahun. Hebat . Karcis berkisar mulai Rp 75.000,-, hingga Rp 250.000,- dengan bangku –bangku permanen dari semen, kecuali pada dua sudut, tempat penari terkadang melintas, terdapat kursi lipat. Terjadual pertunjukan mulai pk 19.30 hingga 21.30. Diselenggarakan saat bulan purnama. SENDRATARI RAMAYANA - PRAMBANAN ini beralamat Jalan Raya Yogya-Solo km 16 Prambanan, Yogyakarta dengan tlp. 0274 496408. Fax 0274 496408





Cerita dibagi dalam beberapa babak. Dimulai sejak prabu Janaka menyelenggarakan sayembara, mencarikan jodoh putrinya yang jelita, Dewi Sinta. Pemenangnya: prabu Ramawijaya! Cerita tidak berhenti, karena salah seorang peserta sayembara, prabu Rahwana, tak menyerah meski kalah. Kenapa ya, bulan madu saja kok ditengah hutan,dan menjadi penggalan ke dua pertunjukan yaitu, episode hutan Dandaka. Tampil pada tengah panggung Rama-Sinta memadu kasih, dengan Lesmoni, jadi kambing congek, mengekori. Rahwana berusaha memisahkan Rama dari Sinta dengan meminta Kalamarica menggoda. Kalamarica mengubah diri menjadi kijang yang cantik, lincah menari-nari, sehingga Dewi Sinta tergoda, meminta suaminya raden Rama untuk menangkap. Atas nama cinta, Rama mengejar kijang, dan meminta adiknya Lesmono menjaga Dewi Sinta. Heran juga ya, kok ngga Lesmono saja ya, yang disuruh ngejar kijang. He, dongengnya bisa bedoa donk.

Berniat memisahkan Rama dari Sinta, terkisah Kijang Kencana berlari jauh, sehingga Rama gemes, dipanahlah sang Kijang, dan berubahlah kembali menjadi Kalamarica. Set panggung berubah mengisahkan Sinta yang ditinggal, dijaga Lesmana. Merasa Rama pergi lama, Sinta meminta Lesmana mencari sang kakak. Dalam buku yang pernah saya baca, Lesmana menolak untuk meninggalkan Sinta, namun karena Sinta menuduh, bahwa Lesmana juga ikutan naksir Sinta, (mungkin) Lesmana jadi ngga enak hati, Lesmana meninggalkan Sinta, namun menjaga dengan meminta Sinta tetap berada dalam lingkaran yang dimanterai.

Rahwana mengetahui Sinta ditinggal sendiri, berusaha mendekati Sinta, namun takdapat mendekati Dewi Sinta. Tak kehilangan akal, Rahwana mengubah menjadi pengemis, sehingga luluhlah hati Dewi Sinta, dan menjulurkan tangannya melewati garis mantera. Sekejap, cukup untuk Rahwana menyambat tangan Dewi Sinta, menarik keluar lingkaran, judulnya : menculik.

Rahwana membawa Dewi Sinta ke balik panggung, ditengah panggung tampail Jatayu. Bueung Garuda, yang akhirnya tewas oleh Rahwana, saat berupaya menggagalkan niat Rahwana. Jatayu sebelum ajalnya, menceriterakan ke mana Sinta menghilang. Ditengah kesedihan kehilangan Sinta, datang kera putih, Hanuman, yang diperintahkan pamannya Sugriwa, mencari dua kesatrai, adalm upaya mencari bantuan, untuk mengambil kembali istrinya Dewi tara, yang direbut kakaknya , Subali. Terkisah, Rama berhasil membunuh Subali dengan panahnya. Rama memanah Subali dari sisi kanan penonton, tepat pada posisi yang diisi kursi lipat. Para penari , terutama Rama, tidak hanya beraksi di panggung persegi empat, namun sesekali ada adegan meninggalkan panggung menuju arah penonton, dan ada yang muncul dari arah penonton. Terdapat dua sisi yang dijadikan jalan, dan rasanya cukup jauh untuk ke balik panggung dari sisi luar arena pertunjukan. Sebagai rasa terima kasih, sugriwa membantu Rama mencari Dewi Sinta.

Alkisah dikerajaan Alengkadirja, menampilkan Kumbokarno diusir sang kakak prabu Rahwana, karena tidak mengetujui tindakan sang kakak, yang menculik istri orang lain. Rahwana tak bergeming, bahkan berusaha membujuk Dewi Sinta, yang dimukimkan di Taman Argosoko, ditemani keponakan sang prabu, Dewi Trijata. Disinilah Hanoman obong, Hanoman yang menjadi utusan raden rama berhasi menyusup kedalam taman, membuat keonaran dan sengaja tertangkap, sehingga terjadilah kisah Hanoman obong, Pembakaran Hanoman, di visualisasikan dengan api sesungguhnya, Hanoman membakar “gubug” rumbia yang terdapat pada latar belakang panggung. Apinya panas hingga tersa ke kursi kami.



Setelah itu adegan beberapa penari berkostum biru, ada “ekor” ikan, kemudian dari kanan panggung muncul kera-kera berkostum merah membawa “batu:. Aha, saya ingat, ini Rama tambak. Adegan berlanjut dengan perang, namanya perang Brubuh, Kumbokarno, atas nama bangsa dan Negara Alengka, mau menkadi panglima meski pernah diusir kakaknya. Rahwana gugur terkena panah pusaka Rama. Sinta diantar hanuman menghadap Rama, namun Rama meragukan kesucian sinta. Sintapun membakar diri, adegan dilakukan pada puncak tangga yang terletak di tengah arena. Nah, yang ini bukan api, tapi kepulan dry ice, karena terkisah api tak mampu “menjilat” Sinta, karena Sinta tak ternoda. Rama menerima kembali Sinta, adegan ditutup dengan keluarnya semua penari, penuhlah panggung. Para penonton dipersilahkan mengambil foto dengan para penari.

Sempat kuatir kalau perlu ke toilet, sehingga selama pertunjukan ngga berani minum, pulangnya baru terlihat toilet yang bersih dengan keramik putih, namun saya ngga lihat orang antri, mungkin semua berfikiran sama, ogah ke toilet. Ditengah pertunjukan ada jeda dan ada refreshment yang diseduakan untuk yang dengan karci Rp 250.000. Sesunggungnya ada dinner juga, entah dengan bayar lagi, atau Rp 250.000, terikut dinner yang dijadualkan antara pk 19.00- pk 20. 00

He, terpenuhi keinginan menonton Balet Ramayana. Matur nuwun dr Liliek P spOG dan dr Yunisa. Apalagi pulangnya langsung,….mie jawa.

Friday, March 6, 2009

Sumpah Dokter Indonesia


Demi Allah, saya bersumpah bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber¬moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja¬an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbang an keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke¬dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper¬taruhkan kehormatan diri saya.



Sumpah Dokter Indonesia adalah sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter Indonesia secara resmi. Sumpah Dokter Indonesia didasarkan atas Deklarasi Jenewa (1948) yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates.

Lafal Sumpah Dokter Indonesia pertama kali digunakan pada 1959 dan diberikan kedudukan hukum dengan Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1960. Sumpah mengalami perbaikan pada 1983 dan 1993.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Thursday, September 11, 2008

Pertunjukan Taman Safari Indonesia Baru: Koboy Lokal

Lelah bekerja seminggu yang kayak nya 11 hari seminggunya, hari minggu pertama awal puasa ini saya mencari tempat “ngabuburit” . Dengan pertimbangan tidak terlalu jauh, banyak yang dilihat, pada alam yang terbuka, saya dan bungsu ketaman Safari Indonesia, Cisarua . Mendapati brosur acara baru, dari awal datang kami memprogramkan menonton koboi.

Bertajuk Wild-wild West, show teranyar ini termasuk show yang free . Lokasi pertunjukan tertera pada peta (yang dibagikan pada tol gate) nyaris paling atas.


Tepat pk 13.00 pintu gerbang dibuka. Diumumkan untuk tidak berdesakan, kapasitas tersedia untuk 2500 orang. Masuk dari arah tengah arena, tampak hamparan pasir sebagai arena dengan latar persis film-film koboi. Disambut spanduk :Welcome to cowboy Town. Dari sisi pandang penonton tampak Salon di tengah, dengan bank disisi kiri , penjara di sebelah kanannya. Gudang pada ujung paling kanan. Pada latar depan , yang dekat area penonton , ada sumur, dan palung kayu yang di film koboi buat tempat minum kuda, plus tiang gantungan kayu, dengan tali yang besar. Jauh di kiri belakang, tower air . Bangunan- bangunan ini dari kayu, dan dibuat bertingkat, dua atau tiga.


Tiba- tiba ada anjing jenis Lassie muncul di tengah arena, he , he, saya kira tadinya anjing yang lepas begitu saja, nggak tahunya bagian dari acara. Tampilnya diikuti beberapa nonik berbaju warna-warni, beberapa koboi yang merangkap pembawa acara. Pertunjukan ini dipandu cerita tentang kehidupan tentram para koboi dan Indian , yang buyar karena datangnya sekawanan perampok. Namanya Taman Safari, sebetulnya kan pertunjukan satwa yang di kemas. Dongeng ini mengantar dengan sah kawanan burung yang berbondong terbang dari sisi kanan panggung ke kiri sementara sekumpulan ayam , bebek, dan segala unggas yang ada di Taman Safari bergerombol tertib dari kiri ke kanan. Sementara sheriff dan beberapa tamu naik kuda . Sip, dalam sekejap tampil banyak hewan dalam gerak!


Makin seru setelah perampok tampil, ada anak kepala suku yang di tawan, ada bank yang di rampok, mengantar kepada adegan baku hantam dan baku tembak, serta bom-bom. Sah mengantar bebrapa tikius putih, kelau masuk dari sisi kanan salaon menuju sisi kiri. Tikus atau marmot ya, (kelihatan dari tempat saya duduk ) ? Tempat penonton berbentuk huruf U , kanan kiri dipisah oleh pintu masuk, bentuk teater, berjenjang naik. Saya duduk pada baris ke 10 sisi kanan jalan masuk. Baku hantam disertai bunyi pukulan, bak- buk, hingga bunyi kayu ambruk, yang diatur dari arah belakang penonton. Bom yang muncul bebrapa kali, sempat di bawa ke tengah penonton, memang dibuat ” panik”, sebelum di lempar ke sumur, meledak, air sumur berhamburan, basah kuyup penontonnya! Api di munculkan saat bank , atau gudang di bakar, apinya terasa betul panasnya.









Ada pertunjukan lain yang sempat saya amati. Saya melihat bule, berbaju seragam safari . Aha, rupanya sutradara. Bule ini tidak hanya menyutradarai pemain, namun menyutradarai penonton. Penonton di pandu kapan bertepuk tangan, dan kalau aka nada bom yang diledakkan akan “action” dengan wajah ngeri dan jalan menunduk-nunduk.

Sungguh suatu pertunjukan yang bagus di tonton. Gabungan tehnologi pada pertunjukan aneka hewan mulai kuda sampai tikus, dengan koboi kulit sawo matang. Sepertinya sudah diperhitungkan, semua penonton, duduk di manapun, akan merasakan panasnya api dan kecipratan air.