Showing posts with label bebek. Show all posts
Showing posts with label bebek. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

Kebayan Village









<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Senangnya punya beberapa kelompok senam, salah satunya, kelompok senam (pencegahan) osteoporosis RS PELNI, menjelang puasa tahun ini, tepatnya Minggu, 24 juli 2011 mengajak ke suatu tempat di antara Sentul city dan gunung pancar, Kebayan Village. Menurut pak Hendra, pemandu kani saat kami berkunjung, lahan ini baru terselenggara sejak sekitar setahun lalu. Lokasi tak jauh dari Jakarta, dari arah Jakarta, keluar tol Sentul Barat, masuk jalan babakan Madang, mentok pada pertigaan yang ada Alfa Mart, langsung belok kanan, seperti kalau akan ke air panas gunung pancar, tetapi tepat setelah jembatan segera belok kiri, disitulah lokasi Kebayan Village. Daerah yang terbuka, terbentang luas, dengan area persawahan dan nampak tanaman yang saya belum kenal. Pohon jenis kaktus, diikatkan pada tonggak dan nampak ada ban, entah apa fungsinya pada tiap pucuk tiang, ternyata “pohon” buah naga. Saat kami berkunjung, sedang ada panen padi, dan beberapa hari sebelumnya, panen jagung.

Kami mencari lokasi senam yang bisa sambil rekreasi menjelang libur tidak menyelenggarakan kegiatan senam selama bulan ramadhan, dan saya tak menyangka mendapati lokasi dengan penawaran yang bisa di pertimbangkan untuk beberapa aktivitas mendatang. Berkeliling meninjau lokasi saat sarana music pengiring senam dipersiapkan, saya mendapati kolam pecking duck, kandang rabbit, lumbung penyimpan padi. Pak Hendra menerangkan, layanan yang di tawarkan berupa paket edukasi kehidupan atau aktivitas pedesaan tepatnya persawahan. Pada brosur say abaca kegiatan berdurasi 4 hingga 6 jam, dimulai dengan welcome drink (wah, saya kok ngga tanya, apa ya welcome drinknya. Pastinya bukan soft drink), lanjut diajak membuat makanan kecil tradisional, tercantum pada aktivitas no 3: visiting village, kemudian traditional market, mungkin lanjut rehat ya, tertulis: waroeng lunch menu. Aktivitas berlanjut dengan Farming activities ( apa ya), kemudian membajak dan memandikan kerbau, setelah itu menanam padi dan tanaman lain, bisa jagung, singkong. Ada acara bermainnya juga lho, entah apa, tertulis sebaga : Anak kampoeng activities, serta traditional music bamboo atau traditional music dance. Paket tertulis Rp 80.000 per orang , dengan minimal 20 orang.

Kami sekitar 40 orang, tetapi kami tidak mengikuti paket, tetapi semua peserta, kecuali saya, telah datang hari sabti, sehingga menginap semalam. Setelah senam , kami bermain dipandu pak Hendra, mungkin permainan-permainan yang tergolong anak kampoeng activities ya, he heboh permainan anak diterapkan pada kelompok kami dari balita sampai usia yang tercakup golongan lanjut usia. Setelah senam dan bermain kelompok kami pergi ke sungai, wah, yang ini saya tidak ikut, karena harus kembali ke Jakarta, sehingga tidak punya fotonya.

Saat saya buka situsnya : www.tamanbudaya.co.id , ternyata ada berbagai fasilitas, outbound pun ada. Wah, bisa arisan plus bawa anak, pokoknya everybody happy lah.

Mariii…..

Wednesday, May 18, 2011

Kuliner Betawi ? Nasi uduk …cing. Buat nyarap bise, siang oke, ….Makan malem? Manthap.




<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE
.

Sudah lama nasi uduk jadi andalan saya kala pagi harus membawa sesuatu yang

bisa disantap, yang ringkas namun mantap. Kebetulan saya menemukan nasi uduk

yang dibungkus daun, sehingga selain saya tak memerlukan piring, daun pisang pembungkus ternyata memberikan aroma yang menambah selera. Kini nasi uduk yang hanya ditaburi sedikit bawang goreng dan telur dadar diiris tipis, pada

bagian yang terbuka yang dijual seharga Rp 4.000,- menjadi kegemaran ayah

saya, selain aroma daunnya, sebungkus cukup mengenyangkan.

Ada beberapa penjual nasi uduk di dalam perumahan kami tinggal, bungsu lebih memilih yang dijual dekat pasar, porsinya lebih besar dan dijual bersama lauk yang bisa dipilih. Nasi uduk dengan lauk telur dan rendang, harganya Rp 11.000,-

Sepanjang jalan tempat gawe ada beberapa tempat yang menjual nasi uduk, yang

paling ramai yang jalan raya Joglo, di pertigaan tak jelas, dekat supermarket Superindo

, gerobaknya bertuliskan Betakaw, tetapi terkenal sebagai nasi uduk Sawo. Mungkin dulu ada pohon sawo ya disitu, saya berusaha mengamati, ngga ada petanda yang menunjukkan sawo, adanya pohon yang dulu memang ditanam untuk penghijauan, akasia(?). Hebat yang ini , saya mengamati mulai hanya dua bangku tepatnya dingklik tinggi, hingga kini punya dua ruang yang selalu penuh saat saya lewat sekitar pk setengah tujuh pagi hari.

Persahabatan saya dengan nasi uduk juga dilanjutkan di tempat gawe, menuju ruang kerja saya selalu melewati tenda-tenda gerai makan dan yang paling laris…..nasi uduk. Paling siang pk 7.30 sudah habis, setahu saya terdapat duatermos besar nasi uduk. Saat penelitian , saya sering membeli untuk naracoba

yang datang siang hari, dibeli pagi direkomendasikan tahan hingga pk 6, lauknya bisa keringan, seperti kering tempe , gorengan tahu, tempe telur mata sapi, ayam goreng, hingga yang agak basah, seperti rendang. Enam ribu rupiah bila dengan lauk rendang telur, sebelas ribu rupiah dengan ayam goreng.

Tak sengaja saya menemukan gabungan nasi uduk dengan lauk yang selalu saya pesan dan hingga kini belum bosan, bebek, di Nasi uduk dan ayam goreng Mas Miskun. Saya jumpai dua gerai Mas Miskun, di Kramat raya arah depan

pegadaian, dan jalan Percetakan Negara. Mas Miskun menyandang misi rasa

restoran harga kaki lima, memasang nasi uduk dan ayam goreng sebagai andalan,

menyertai papan namanya, meski pada daftar menunya bebek dan segala ikan ada. Mengetahui lalapan dan sambel bisa menyebabkan porsi nasi dan lauk perlu

tambah, Mas Miskun secara jelas menuliskan : sambel dan lalapan gratis. Ada

tujuh jenis sambal saat saya berkunjung diletakkan pada saung kecil, sedangkan

lalapan pada wadah kaca tertutup. Saya mendapati beberapa pengunjung yang

semeja berdua ayamnya masing-masing dua plus pepes. Mantap

bener sambelnya, mendorong nasi, sehingga beberapa kali meminta tambahan

nasi. Dua kali berkunjung, saya tak berubah menu, bebek bakar dan nasi uduk.

Bebek bakar Rp 10.900 sedangkan nasi uduk Rp 3900,- per porsi. Saya menulis

artikel ini sambil mengamati bon yang sengaja saya simpan, lho, setiap harga

berakhiran 900, biar hoki? Lha, es teh tawarnya kok Rp 1000,- ya, kok nggaRp 900. He he…ngga konsisten ya.

Sebegitu mantapnya nasi uduk untuk lidah Betawi, di bebek goreng Slamet yang

konon asli Surakarta, saya menemukan nasi uduk juga. Dekat rumah kami ada

dua bebek Slamet, dipastikan ke duanya ada nasi uduk. Di Surakarta ada juga

ngga ya? Ada “merk” terkenal sebagai gerai nasi uduk, nasi uduk Kebon

Kacang,. Dekat rumah kami , di jalan Raya Joglo, depan Telkom namanya nasi

uduk Kebon Kacang babe Saman. Seperti halnya sop kambing di Jakarta, yang

menyertakan kumis pada namanya, sebagian besar nasi uduk yang mengatakan

asli, menyertakan Kebon Kacang pada namanya. Saya belum sempat singgah

di nasi uduk Kebon Kacang, babe Saman meski dekat rumah, hanya tampak lauk

yang memangil-manggil karena tampak dari jalan pada wadah kaca. Ada

bebeknya ngga ya? Yang di Kebon Kacang, asisten wara-wiri sempat saya

mintamelacak, asisten wara-wiri mendapati pada jalan kecil tak jauh dari Thamrin

City. Nasi uduk Kebon kacang dekat rumah kami buka mulai sore, sedangkan

yang di Kebon kacang dan Kebon kacang yang dekat perkantoran atau tempat

perkuliahan seperti yang di Rawamangun, buka mulai menjelang makan siang.

Konon nasi uduk yang baik yang kalau dibuka dari bungkusnya langsung buyar,

tidak saling melekat meski dimasak dengan santan yang memberikan rasa gurih.

Sambal kacang katanya paling tepat untuk nasi uduk.

Jadi, … pagi , siang, sore dan malam…,nasi uduk nyok.

Saturday, March 6, 2010

Warung Keroncong Gaul



Undangan makan siang bersama teman lama, pk 13.00 di Wrung gaul. Saya iyakan saja, biar ada yang saya tulis d akhir pecan ini. Meski undangan hari Sabtu, saya sudah mengatakan sangat terlambat, karena gawe dulu.

Sekitar pk 14 gawe poliklinik dan sebagian ruangan baru selesai, saya meninggalkan rumah sakit di kawasan Petamburan menuju Jln TB Simatupang. Beruntung saya mengajak asisten penelitian saya, dr Lulu, yang segera mengakses dengan BBnya. Tampak lokasi Warung Keroncong gaul , lengkap dengan fotonya.

Warung ini berlokasi di Jln TB Simatupang Raya . pada petunjuk lokasi, disebutkan bila dari sisi Citos, lurus , berbalik arah, lokasinya setelah Cwie Mie. Jalan tersendat, saat di depan Citos, saya menengok ke sisi seberang, tampak tulisan berdasar kuning: Warung Keroncong gaul.

Warung ini (ternyata) berkonsep Pujasera, sehingga ada pondok-pondok kecil disekitar bangunan utama. Pada pondok-pondok kecil ini juda dimasaka berbagai makanan, antara lain soto kwali, mie ayam, soup dan steak.

Para teman sudah selesai bersantap, saya memesan bebek cabe hijau. Rencananya sih difoto dulu, lupa, lha saya sudah lapar sekali. Licin tandaslah bebek yang renyah , garing dan masih ada dagingnya. Ini penting buat saya, karena ada yang renyah, weh , dagingnya nyaris tak ada, seperti mummi, dagingnya tinggal yang melekat di tulang.

Makan sambil berbincang, hujan deras mengguyur. Tepat sebelum hujan menjadi sangat deras, datang beberapa pinisepuh berseragam. Para sepuh berseragam ini ternyata dari legion veteran yang berkantor di jalan raden intan (?), dan bernyani keroncong, diiringi organ tunggal dan dipandu penyanyi . wah, ini rupanya yang membuat warung ini menyandang nama gaul.

Lagu- lagunya lagu keroncong. Warung ini konon milik penyanyi kreoncong yang kondang Titu Tri Sedya.

Ada tulisan dan tanda tangan di dinding, antara lain Kris Biantoro dan Dedi Dhukun.

Makan kami tutup dengan kopi jahe, yang cocok dengan hujan yang deras. Dua orang teman ikutan nyanyi. Gaul poll pokoknya. Gentian para sepuh legion veteran bertepuk tangan. Wong temen kami dr Eva suaranya apik tenan.

Saat pulang saya disanguni kartu nama dan menu. Ibu cantik paruh baya yang di kasir bernama bu Bambang. Sambil memberikan kartu nama, ibu Bambang berbisik, agar kami tidak lupa mengisi kotak kecil didepan “panggung”, untuk musisi.

Buat ayah saya , saya membawa pulang gurami asem manis, sedang untuk ndoro kakung, 2 CD. Mus Mulyadi dan Tuty Maryati (nama kini Tuty Tri Sedya) masing –masing berharga Rp 15.000 dan Rp 35.000,-

Nah, yang ingin jalan- jalan dan makan sekitar Citos, ada tempat aneka makanan, tepat di depan gerbang pintu belakang RS Fatmawati.

Plus bisa menampilkan kepiawaian menyani (keroncong).





Sunday, October 5, 2008

Nury's kitchen



Sabu (salad buah)

Bahan:

Salad buah, 1 kaleng fruit coctail del Monte, 1 kaleng lechi, 1 1/2 bungkus agar-agar swallow tanpa warna

Cara membuat:
-pisahkan air buah dari buahnya, rebus air buah, masukkan agar-agar, aduk hingga rata dan matang. Agar-agar didinginkan, setelah dingin, potong besar, parut sehingga menjadi seperti bihun. Campurkan dengan buah.

Tambahkan mayonaise, taburi keju permesan, hias dengan chery,suguhkan dingin- dingin
(untuk 15 - 20 orang)


Bebek potong , rebus dengan garam secukupnya dalam panci sakura, mendidih, api dikecilkan selama 15 menit
Masukkan panci dalam boks Sakura, 2 jam kemudian keluarkan, bubuhi bumbu barbeque, diamkan 1/2 jam, panggang hingga kering kecoklatan
Ditanggung empuk ,sedap en mak nyuus!