Tuesday, May 9, 2017

Malang - sekitar 1958: Menyusuri Jejak Bapak

     Pada album yang sama dengan album PERMESTA, saya menemukan foto bapak rapat bersama (seorang) pejabat, sepertinya berbincang serius. Saya menduga dengan Walikota. Saya cari dan cocokkan dengan foto walikota Malang, ternyata foto ayah saya dengan Walikota pertama masa kemerdekaan, bapak M. Sardjono Wiryohardjono, yang menjabat walikota Malang, sejak tahun 1945 hingga tahun 1958. Foto ini terpasang sebelum foto-foto masa PERMESTA. Ada yang unik pada daftar Walikota Malang. Tahun 1947 hingga tahun 1950 ada 2 walikota Malang, selain bapak M Sardjono. Disebut sebagai walikota federal, tahun 1947 - 1948 terbaca nama Amidarto. Selanjutnya R. Soehari Hadinoto tahun 1948- hingga tahun 1950.
     Bapak sependengaran saat kecil (?) yang kemudian saya ingat, saat itu konon menjabat Komandan Kota Besar Malang (?) . Minggu mendatang,19 Maret saya tanya kakak dan sepupu yang saat itu lebih besar. Saya lahir tahun 1954. Ayah saya sepertinya cukup aktif. Saya ingat lamat-lamat, saya dipangku ayah saya, nonton wayang Po Te Hi di Klenteng. Bapak duduk di deretan depan, saya memandang ke atas, mengamati. Saat ada "sirkus", saya ditidurkan di stroller, didorong anjing herder besar. Mrngelilingi tempat acara yang melingkar. Saat itu saya merasa senang.
     Saya senang wayang Po Te Hi, mungkin karena saat kecil nonton ya. Saya juga pernah dibelikan herder besar, saat bapak di Irian Barat. Sepertinya "sogokan" agar saya tidak rewel ditinggal ibu menemani bapak di Soekarnapura - Irian Barat.
Luv U bapak.

PERMESTA- Ibu Sarbini - istri tentara: Menyusuri Jejak Bapak

     Nampak pada foto ilustrasi tulisan ini ibu Sarbini, istri Pangliam Brawijaya era ayah saya ditugasi ke Sulawesi untuk PERMESTA bersama para istri tentara. Ibu Sarbini sesuai dengan ingatan saya, berkerudung panjang. Istri Panglima, merupakan panglima bagi para isri. Saya ingat senyum ramahnya. Nampak ibu berkain kebaya, dress code atau sesuai busana masa itu, nampak ke dua dari kanan.
     Jendral Sarbini dan keluarga selain religius, juga menghargai para kerabat. Pernah saat kunjungan lebaran di kediaman beliau, kami “menjumpai” sesi sungkeman. Sungkeman pada ke 2 beliau, tidak hanya keluarga inti, namun seisi rumah termasuk asisten rumah tangga.
Ada beberapa "balita".
Saya kok ngga ada ya. Seingat saya, saya "pengekor" ibu.

PERMESTA - Parigi – Gorontalo: Menyusuri Jejak Bapak

     Saya belum berhasil menemukan foto jip yang menurut ayah kami dibuat di tepi pantai di Parigi. Beeberapa foto terkelupas dari album. Parigi termasuk wilayah Sulawesi Tengah, meski Sulawesi Tengah bukannya tidak mempunyai pantai. PERMESTA mendapat dukungan bahkan dari Amerika Serikat. Selain dari Amerika Serikat, Permesta juga mendapat bantuan dan dukungan dari sekutu pro Barat, seperti Taiwan, Korea Selatan dan Filipina serta Jepang, bahkan malaysia yang baru merdeka tahun 1957. Dari Amerika konon A L Pope, seorang tentara bayaran, yang dikatakan agen CIA, menggunakan pesawat pesawat pembom B-26 Invader AUREV, untuk menghancurkan armada Republik Indonesia. Konon kalau bapak dengan kapal perangnya tidak meninggalkan “base” nya yang entah di mana, sudah terkena bom A L Pope. 
     PERMESTA tadinya bermarkas di Makasar, kemudian berpindah ke Gorontalo. Sasaran Angkatan Perang Republik Indonesia, “membebaskan” Palu dan Gorontalo, ini (mungkin) yang membawa bapak ke Parigi yang terletak di sisi Timur Palu dan Gorontalo.

Foto ilustrasi tulisan ini mungkin berkesan untuk bapak, selain ukuran kecilnya, ada cetakan ukuran 10 R. Foto ini tersusun antara foto jendral Sarbini dengan foto Tolotio

PERMESTA - Brawijaya - Jendral Sarbini: Menyusuri Jejak Bapak

     Gorontalo dibebaskan dari PERMESTA konon pada tahun 1958. Pada album yang sama, saya menemukan foto jendral Sarbini. Tokoh Veteran, yang namanya diabadikan menjadi Balai Sarbini. Saat itu dengan pangkat Kolonel, menjabat Panglima T & T V Brawijaya tahun 1956 - 1959.
     Ibu saya menceriterakan jendral Sarbini yang humoris. Saat beliau menjadi salah satu mentri di era pak Haro, berjumpa di Istana Merdeka disuatu acara, mengganggu ibu, dengan "sembunyi" lalu melingkari tiang istana yang tinggi besar kala ibu menghampiri untuk memberi salam.
     Suatu ketika dengan ramah menyalami, namun segera "lari" tertawa, karena berhasil melolosi cincin berlian ibu. Masa itu para ibu menggemari cincin berlian bentuk seperti ketupat.
Kelahiran Kebumen, sehingga beliau sering bergurau: Diarani kebo, yo men. (Disangka kerbau, ya biar saja)
Ayah saya mempunyai komandan yang hebat-hebat, diantaranya jendral Sarbini, yang selain komandan dengan perilaku militer juga religius

Tolotio Gorontalo: menyusuri jejak bapak

Foto ini salah satu foto favorit saya. Foto bapak bersama jendral Gatot Subroto. Kemungkinan ini salah satu yang "dikunjungi" saat tugas dalam rangka PRRI/PERMESTA. Saya temukan merupakan salah satu desa di Tibawa Gorontalo. Bandara nya sekarang bernama Jalaludin.
Konon Gorontalo pernah menjadi wllayah PERMESTA. Penumpasan PERMESTA mengembalikan Gorontalo menjadi bagian Republik Indonesia kembali.
Senang menemukan sejarahnya, bukan sekedar foto.
Apa ada kemungkinan berkunjung?