Saturday, March 6, 2010

Warung Keroncong Gaul



Undangan makan siang bersama teman lama, pk 13.00 di Wrung gaul. Saya iyakan saja, biar ada yang saya tulis d akhir pecan ini. Meski undangan hari Sabtu, saya sudah mengatakan sangat terlambat, karena gawe dulu.

Sekitar pk 14 gawe poliklinik dan sebagian ruangan baru selesai, saya meninggalkan rumah sakit di kawasan Petamburan menuju Jln TB Simatupang. Beruntung saya mengajak asisten penelitian saya, dr Lulu, yang segera mengakses dengan BBnya. Tampak lokasi Warung Keroncong gaul , lengkap dengan fotonya.

Warung ini berlokasi di Jln TB Simatupang Raya . pada petunjuk lokasi, disebutkan bila dari sisi Citos, lurus , berbalik arah, lokasinya setelah Cwie Mie. Jalan tersendat, saat di depan Citos, saya menengok ke sisi seberang, tampak tulisan berdasar kuning: Warung Keroncong gaul.

Warung ini (ternyata) berkonsep Pujasera, sehingga ada pondok-pondok kecil disekitar bangunan utama. Pada pondok-pondok kecil ini juda dimasaka berbagai makanan, antara lain soto kwali, mie ayam, soup dan steak.

Para teman sudah selesai bersantap, saya memesan bebek cabe hijau. Rencananya sih difoto dulu, lupa, lha saya sudah lapar sekali. Licin tandaslah bebek yang renyah , garing dan masih ada dagingnya. Ini penting buat saya, karena ada yang renyah, weh , dagingnya nyaris tak ada, seperti mummi, dagingnya tinggal yang melekat di tulang.

Makan sambil berbincang, hujan deras mengguyur. Tepat sebelum hujan menjadi sangat deras, datang beberapa pinisepuh berseragam. Para sepuh berseragam ini ternyata dari legion veteran yang berkantor di jalan raden intan (?), dan bernyani keroncong, diiringi organ tunggal dan dipandu penyanyi . wah, ini rupanya yang membuat warung ini menyandang nama gaul.

Lagu- lagunya lagu keroncong. Warung ini konon milik penyanyi kreoncong yang kondang Titu Tri Sedya.

Ada tulisan dan tanda tangan di dinding, antara lain Kris Biantoro dan Dedi Dhukun.

Makan kami tutup dengan kopi jahe, yang cocok dengan hujan yang deras. Dua orang teman ikutan nyanyi. Gaul poll pokoknya. Gentian para sepuh legion veteran bertepuk tangan. Wong temen kami dr Eva suaranya apik tenan.

Saat pulang saya disanguni kartu nama dan menu. Ibu cantik paruh baya yang di kasir bernama bu Bambang. Sambil memberikan kartu nama, ibu Bambang berbisik, agar kami tidak lupa mengisi kotak kecil didepan “panggung”, untuk musisi.

Buat ayah saya , saya membawa pulang gurami asem manis, sedang untuk ndoro kakung, 2 CD. Mus Mulyadi dan Tuty Maryati (nama kini Tuty Tri Sedya) masing –masing berharga Rp 15.000 dan Rp 35.000,-

Nah, yang ingin jalan- jalan dan makan sekitar Citos, ada tempat aneka makanan, tepat di depan gerbang pintu belakang RS Fatmawati.

Plus bisa menampilkan kepiawaian menyani (keroncong).





No comments: